Rabu, 16 Maret 2011

MOM LOVE

Puisi

~ CINTA IBU ~

Nduk….
terdengar lirih dari telingaku

nduk….
ku dengar lagi suara merdu itu

nduk bangun..
aku kenal suara itu
suara bak malaikat
pembawa kunci pintu surga
berupaya membuka mata ini
untuk melihat dunia
fajar pagi seindah senyum di wajahnya
betapa mulianya Ia
Ibu...
begitu ku memanggilnya.

By: epha’

AKAL & WAHYU

PEMBAHASAN
A. Pengertian akal dan wahyu
Akal berasal dari kata bahasa arab ‘aqala-ya’qilu’ yang secara lughawi memiliki banyak makna, sehingga kata al-‘aql sering disebut sebagai lafzh musytarak, yakni kata yang memiliki banyak makna.
Kata al-‘aqlu sebagai mashdar (akar kata) juga memiliki arti nurun ruhaniyyun bihi tudriku al-nafsu ma la tudrikuhu bi al-hawas, yaitu cahaya ruhani yang dengannya seseorang dapat mencapai, mengetahui sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh indra. Sedangkan kata al-‘aqil (bentuk pelaku, isim fa’il) sering digunakan untuk menyebutkan manusia, karena manusialah yang berakal. Makhluk selain manusia disebut dengan ghair al-‘aqil (makhluk tak berakal).
Atas dasar beberapa pengrtian lughawi diatas, maka yang dimaksut dengan akal dalam konteks pembahasan Studi Islam ini adalah daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang dimiliki manusia untuk memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akan tetapi dalam pengertian ini pulalah yang dalam islam dihadapkan (tetapi bukan dipertentangkan) dengan wahyu, yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia, yaitu dari Allah.
Adapun kata wahyu berasal dari bahasa arab al-wahyu, merupakan kata asli arab, bukan kata pinjaman dari bahasa asing (mu’ar-rab). Kata itu memiliki arti suara, api, dan kecepatan. Al-wahyu juga sering diartikan dengan bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Oleh karena itu, wahyu dipahami sebagai pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat.
B. Istilah Akal dan Wahyu dalam al-Qur’an
Kata al-‘aqlu dalam bentuk kata benda (masdar) tidak terdapat dalam al-Qur’an.
Al-Qur’an hanya memuat dalam bentuk kata kerjanya. Sebagai contoh ayat-ayat berikut ini :
Beberapa ayat tersebut mewakili kata-kata kunci yang memiliki akar kata sama dengan kata akal, menunjukan beberapa makna sebagai berikut:
1. Kata akal diartikan dengan memahami, mengerti, berfikir, memikirkan dan merenungkan.
2. Dorongan dan bahkan keharusan manusia untuk menggunakan akal pikiran.
3. Martabat manusia ditentukan oleh penggunaan akal pikirannya dalam menghadapi sesuatu.
4. Akal merupakan kunci untuk mendapatkan pengetahuan.
Disamping kata al-‘aql, sebagaimana diuraikan diatas, juga banyak memuat kata-kata kunci yang berhubungan atau bahkan semakna dengan akal, seperti al-qalb, faqiha, tafaqqaha, tafakkara, tadabbara, tazakkara, ‘alima dan nazhara.
Kata wahyu dan tashri (penisbahan)-nya, baik balam bentuk fi’il madhi maupun dalam bentuk mashdar-nya.dilihat dari segi maknanya dapat dikelompokan sebagai berikut:
1. Wahyu dalam arti firman Allah yang disampaikan kepada Nabi dan Rasul-Nya,yang berupa risalah atau kitab suci.
2. Wahyu dalam arti firman (pemberitahuan)Allah kepada Nabi dan Rasul-N untuk mengantisipasi kondisi dan tantangan tugasnya.
3. Wahyu dalam arti instink atau nurani atau potensi dasar yang diberikan Allah kepada makhluknya.
4. Wahyu dalam arti pemberi ilmu dan hikmah.
5. Wahyu dalam arti ilham atau petunjuk Allah kepada manusia dalam bentuk intuisi atau inspirasi dan bisikan hati.
Adapun yang dimaksud dengan wahyu dalam pembahasan ini adalah firmanAllah Swt, yang dititahkan kepada para Nabi-Nya sbagai risalah bagi kehidupan manusia sesuaikehendak Allah Swt.
C. Kedudukan dan Fungsi Akal dan Wahyu dalam Memahami Islam
Manusia yang tidak menggunakan akalyang terdiri dari daya piker dan qalbu, maka hilanglah ciri dan sifat kemanusiaannya. Namun, penggunaan akal yang berlebihan dan diluar proporsinya, juga akan menyebabkan tergelincirnya manusia ke lembah dosa dan kesesatan.
Daya piker manusia menjangkau wilanyah fisik dan masalah-masalah yang relative, sedangkan qalbu memiliki ketajaman untuk menangkap makna-makna yang bersifat metafisik dan mutlak. Oleh karenanya dalam hubungan dengan upaya memahami islam, akal memiliki kedudukan dan fungsi sebagai berikut:
1. Akal sebagai alat yang strategis untuk mengungkap dan mengetahui kebenaran yang terkandung dalam al-Qur’an dan sunnah Rasul.
2. Akal merupakan potensi dan modal yang melekat pada diri manusia untuk mengetahui maksud-maksud yang tercakup dalam pengertian al-Qur’an dan sunnah.
3. Akal juga berfungsi sebagai alat yang dapat menangkap pesan dan semangat al-Qur’an dan sunnah.
4. Akal juga berfungsi untuk menjabarkan pesan-pesan al-Qur’an dan sunnah.
Adapun wahyu dalam hal ini dapat dipahami sebagaiwahyu langsung (al-Qur’an) ataupun wahyu tidak langsung (al-Sunnah). Oleh karena itu Fungsi dan kedudukan wahyu dalam memahami islam adalah:
1. Wahyu sebagai dasar dan sumber pokok ajaran islam.
2. Wahyu sebagai landasan etik.

D. Akal dan Wahyu: Perspektif Tujuan Penciptaan Manusia
Dalam kajian filosofis, subjek yang mencipta segala yang ada (maujudat) disebut Tuhan, sementara segala yang ada sebagai objek penciptaan-Nya disebut alam. Alam merupakan tanda-tanda Tuhan. Al-Qur’an sebagai firman Tuhan menyebutkan: Akan kami tunjukkan tanda-tanda Kami di jagat raya dan di dalam diri mereka sendiri (manusia) [QS Fushshilat (41):53]. Di ujung ayat, disebutkan secara tidak langsung adanya manusia. Manusia adalah salah satu makhluk (ciptaan) Tuhan yang ada di alam (semesta) ini. Dengan demikian, manusia menduduki posisi unik antara alam dan Tuhan, yang memungkinkan dirinya berkomunikasi dengan keduanya (Kartenegara,2002:137). Dengan posisinya yang unik itu, manusia diciptakan Tuhan bukan tanpa tujuan. Untuk memenuhi tujuan penciptaan itu adakah Tuhan memperlengkapi manusia dengan sarana-sarana yang memungkinkan dia mewujudkan tujuan penciptaannya.

1. Manusia sebagai Puncak (Tujuan Akhir) Penciptaan Alam
Dalam konteks tujuan akhir penciptaan alam, maka seluruh isi alam adalah untuk manusia, ibarat seluruh akar, batang dan daun pisang dipersiapkan untuk buahnya. Apabila mau direnungkan, bukankah apa saja yang ditemukan di dunia ini adalah untuk manusia? Tentang ini sebuah hadist qudsi menyatakan: “Lau laka wa lan laka, ma khalaqtu al- alama kullaha” (“ Kalau bukan karenamu, tidak akan Kuciptakan alam semesta ini seluruhnya.”) Al-Qur’an sendiri menyebutkan: “Dialah (Tuhan) yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untukmu.” [QS Al-Baqarah (2):29].
Sedangkan dalam konteks puncak penciptaan alam, manusia secara biologis adalah makhluk yang paling lengkap dan paling canggih, dalam pengertian mengandung semua unsure yang ada dalam kosmos, mulai unsur-unsur mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, hingga unsur-unsur khas manusia itu sendiri yang merupakan daya-dayanya yang istimewa. Hal ini--kembali ke contoh Rumi--ibarat buah, melalui bijinya, yang mengandung di dalamnya semua unsure pohon yang melahirkannya, seperti akar, batang, dahan, ranting dan daun. Karena itulah, manusia sering disebut juga sebagai mikrokosmos (dunia kecil) yang terkandung di dalam dirinya semua unsur yang ada dalam kosmos. Mengandung unsur mineral dimaksudkan bahwa manusia memiliki daya atomik. Mengandung unsure tumbuh-tumbuhan berarti bahwa manusia memiliki daya-daya nabati, yaitu makan (nutrition, al-ghadziyah), tumbuh (growth, al-munmiyah), dan berkembang biak (reproduction, al-muwallidah). Mengandung unsur-unsur hewan berarti bahwa manusia memiliki daya-daya hewani, yaitu penginderaan (sense perception, al-mudrikah) dan gerak (locomotion, al-muharrikah). Khusus tentang penginderaan, Ibnu Sina, seorang pemikir Islam klasik, memperkenalkan indera-indera batin di samping indera-indera lahir yang kita kenal; kebetulan ada lima, sehingga dapat disebut panca indera. Kelima indera batin itu adalah (1) indera bersama (common sense, al-hiss al-musyatarak); (2) daya retentive (al-khayal), kemampuan untuk merkam bentuk-bentuk lahiriah; (3) daya imajinasi (al-mutkhayyilah), kemampuan untuk menggabungkan secara mental berbagai bentuk fisik sehingga menghasilkan bentuk yang unik, yang mungkin tidak ditemui dalam dunia nyata, seperti kuda terbang; (4) daya estimatif (al-wahmiyah), kemampuan untuk menilai sebuah objek dari sudut manfaat atau bahayanya; dan (5) daya memori (al-hafizhah), kemampuan menyimpan data baik yang empiris maupun non-empiris (Nasution, 1973: 30-31; dan Kartanegara, 2002:49).
Adapun unsure khas manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lain adalah akal. Secara funsional, akal terbagi dalam dua daya: kemampuan kognitif atau teoritis, dan kemampuan manajerial atau praktis. Cara akal mengabstraksikan makna dari data-data inderawi adalah dengan mengelokpokkan data-data inderawi yang masuk dalam kategori-kategori tertentu, sehingga menghasilkan konsep-konsep yang universal. Manusia sebagai puncak atau tujuan akhir penciptaan alam dengan daya-daya yang dimilikinya sebagaimana dijelaskan di atas disempurnakan Tuhan dengan dikaruniai sesuatu yang bersifat ruhani, yang menjadikan manusia bukan hanya makhluk fisik, melainkan juga makhluk spiritual. Wahyu merupakan sabda atau firman Tuhan yang disampaikan kepada manusia yang menjadi pilihan-Nya (yang telah mencapai tinggkat kesempurnaan, disebut al-insan al-kamil, yaitu Nabi atau Rasul) untuk terus disampaikan kepada manusia lainnya sebagai pegangan dan panduan hidup.
2. Tujuan Penciptaan Manusia
Denagn daya-daya yang dimilikinya sebagai puncak penciptaan alam, ternyata manusia sebagaimana diinformasikan Al-Qur’an, diciptakan dengan tujuan untuk menjadi khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi. Tujuan penciptaan yang terakhir ini hanya dimandatkan kepada manusia. Untuk melaksanakan fungsi khalifah ini, manusia diberi anugerah oleh Tuhan dengan dua buah hadiah yang sangat istimewa, yaitu ilmu pengetahuan (‘ilm) dan kebebasan memilih (ikhtiyar). Dan untuk menerima kedua hadiah itu, manusia telah dilengkapi di dalam dirinya sarana atau piranati, berupa akal, dan fasilitas lain di luar dirinya, berupa wahyu Tuhan yang diturunkan kepada manusia yang telah mencapai tingkata kesempurnaan yang dalam bentuk konkretnya diwakili oleh Nabi Muhammad s.a.w. Dengan kata lain, dibekali sarana internal, yaitu akal, dan anugerah fasilitas wahyu, manusia itu pontensial memiliki pengetahuan dan kebebasan memilih dalam kerangka menjalankan peran khalifah --membangun kebudayaan atau peradaban--sebagai tujuan penciptaannya.