CERITA RAKYAT TERBENTUKNYA KOTA WONOSOBO
Berdasarkan ceritera rakyat pada sekitar awal abad ke-18, tersebutlah tiga orang pengelana yang masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik, mulai merintis suatu pemukiman di daerah Wonosobo. Selanjutnya Kyai Kolodete berada di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik berada di sekitar Kota Wonosobo sekarang ini.
Sejak saat itu daerah ini mulai berkembang dan tiga orang tokoh tersebut dianggap sebagai cikal-bakal dari masyarakat Wonosobo yang dikenal sekarang. Makin lama daerah ini semakin berkembang sehingga semakin ramai. Di kemudian hari dikenal beberapa nama tokoh penguasa daerah Wonosobo seperti Tumenggung Kartowaseso sebagai penguasa daerah Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Selomanik. Dikenal pula tokoh bernama Tumenggung Wiroduto sebagai penguasa Wonosobo dengan pusat kekuasaan di Kalilusi Pecekelan yang selanjutnya dipindahkan ke Ledok (Wonosobo) atau Plobangan sekarang ini. Seorang cucu Kyai Karim yang dikenal dengan nama Ki Singowedono juga disebut sebagai salah seorang penguasa di Wonosobo. Beliau mendapat hadiah satu tempat di Selomerto dari Kraton Mataram, serta diangkat menjadi penguasa daerah tersebut. Namanya kemudian berganti menjadi Tumenggung Jogonegoro. Pada masa itu pusat kekuasaan dipindahkan ke Selomerto. Setelah meninggal dunia, Tumenggung Jogonegoro dimakarnkan di Desa Pakuncen.
Pada awal abad ke-17 agama Islam sudah mulai berkembang luas di daerah Wonosobo. Seorang tokoh penyebar agama Islam yang sangat dikenal pada masa itu adalah Kyai Asmarasufi, yang dikenal pula sebagai menantu Ki Wiroduto salah seorana penguasa di Wonosoho Kyai Asmarasufi yang mendirikan Masjid Dukuh Bendosari dipercaya sebagai cikal-bakal atau tokoh yang kemudian menurunkan pada ulama Islam dan pemilik pondok pesantren yang ada di Wonosobo pada masa berikutnya seperti Kyai Ali Bendosari, Kyai Syukur Sholeh, Kyai Mansur Krakal, Kyai Abdulfatah Tegalgot, Kyai Soleh Pencil, Kyai As'ari, Kyai Abdul Fakih, Kyai Muntaha dan Kyai Hasbullah.
Demikianlah, dari hari ke hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, waktu berjalan terus, keadaan Wonosobo makin lama makin berkembang sejalan dengan kemajuan peradaban manusia. Dan selanjutnya pada masa antara tahun 1825 - 1830 atau tepatnya pada masa Perang Diponegoro, Wonosobo merupakan satah satu medan pertempuran yang penting dan bersejarah. Daerah ini adalah salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Pangeran Diponegoro, dengan kondisi alam yang menguntungkan serta dukungan masyarakat yang sangat besar terhadap perjuangan tersebut. Beberapa medan pertempuran yang menandai perjuang pasukan pendukung Pangeran Diponegoro tersebar di Gowong, Ledok, Sapuran, Plunjaran, Kertek dan sebagainya.
Di samping itu dikenal pula beberapa tokoh penting di Wonosobo yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kekuasaan kolonial Belanda. Tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah Imam Misbach atau di kemudian hari dikenal dengan nama Tumenggung Kartosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Ki Muhammad Ngarpah. Nama yang terakhir ini adalah tokoh penting yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro di Wonosobo. Walaupun perjuangan Muhammad Ngarpah tidak terbatas di daerah Wonosobo saja melainkan juga di daerah Purworejo, Magelang, Klaten dan sebagainya, akan tetapi keberadaan beliau sangat penting dalam sejarah Wonosobo. Muhammad Ngarpah bersama-sama Mulyosentiko memimpin pasukan pendukung Pangeran Diponegoro menghadang pasukan Belanda di Legorok dekat Pisangan Yogyakarta. Dalam pertempuran di Legorok tersebut Ki Muhammad Ngarpah bersama-sama Ki Mulyosentiko beserta pasukannya berhasil menewaskan ratusan tentara Belanda, termasuk empat orang tentara Eropa. Mereka juga berhasil mengambil emas lantakan senilai 28,00 gulden pada saat itu. Pada pencegatan di Legorok, Belanda mengatami kekalahan sehingga hanya beberapa orang saja yang dapat melarikan diri.
Menurut catatan sejarah, kemenangan Ki Muhammad Ngarpah serta para pendukungnya itu adalah kemenangan pertama pasukan pendukung pangeran Diponegoro. Maka berdasarkan keberhasilan tersebut Pangeran Diponegoro memberi nama Setjonegoro kepada Muhammad Ngarpah dan nama Kertonegoro kepada Mulyosentiko. Selanjutnya Setjonegoro diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar Tumenggung Setjonegoro. Pada masa-masa berikutnya Setjonegoro terus aktif mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, bersama-sama dengan tokoh pendukung lainnya seperti Ki Muhammad Bahrawi atau Muhammad Ngusman Libasah, Muhammad Salim, Ngabdul Latif dan Kyai Ngabdul Radap.
Dalam pertempuran di Ledok dan sekitamya,Tumenggung Setjonegoro mengerahkan 100 orang prajurit yang dipimpin oleh Mas Tumenggung Joponawang untuk menghadapi serbuan Belanda. Tumenggung Setjonegoro juga pemah mendapat tugas dari Pangeran Diponegoro untuk mengepung benteng Belanda di Bagelen. Dalam pertempuran di daerah Kedu, pemimpin pasukan Belanda bemama Letnan De Bruijn terbunuh. Selain itu Setjonegoro dan Kertonegoro juga terlibat dalam pertempuran di daerah Delanggu. Mereka memimpin pasukan ke daerah Lanjur untuk menghadang pasukan Belanda yang datang dari Klaten.
Eksistensi kekuasaan Setjonegoro di daerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dibuat setelah perang Diponegoro selesai. Disebutkan pula bahwa Setjonegoro adalah Bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke kawasan Kota Wonosobo sekarang ini.
Dari hasil Seminar Hari Jadi Wonosobo pada tanggal 2 April 1996 (yang dihadiri oleh Tim Peneliti Hari jadi Wonosobo dari Fakultas Sastra UGM, Muspida, sesepuh dan pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, pimpinan DPRD dan pimpinan komisi serta instansi di Wonosobo), disepakati bahwa momentum Hari Jadi Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825, dan hal ini telah ditetapkan menjadi Perda dalam Sidang Pleno DPRD Kabupaten Wonosobo tanggal 11 Juli 1994. Dipilihnya tanggal tersebut erat kaitannya dengan peristiwa kemenangan pertama pasukan pendukung pangeran Diponegoro yang dipimpin oleh Ki Muhammad Ngarpah atau Tumenggung Setjonegoro di Legorok. Walaupun serangan yang berhasil itu tidak terjadi di wilayah Wonosobo, akan tetapi peristiwa itulah yang mengangkat karir Muhammad Ngarpah sehingga diangkat menjadi penguasa Ledok dengan gelar Tumenggung Setjonegoro.
Kabupaten Wonosobo terletak di daerah pegunungan nan berhawa sejuk. Tak heran banyak turis yang pernah berkunjung ke Wonosobo merindukan hawa sejuknya dan ingin berkunjung lagi. Tapi tahukah kamu sebenarnya Wonosobo berasal dari dua kata yaitu "WONO" & "SOBO". WONO mempunyai arti hutan sedangkan SOBO mempunyai arti mengunjungi. Jadi, WONOSOBO artinya sebuah kawasan hutan yang bergunung-gunung dan memiliki keunikan alam yang mampu menarik orang untuk mengunjungi. Wonosobo memiliki lingkungan yang bersih dan indah sesuai dengan semboyan "WONOSOBO ASRI" (ASRI=Aman, Sehat, Rapi, Indah). Perlu kalian ketahui juga bahwa Wonosobo sudah berkali-kali meraih Piala ADIPURA.
begitu sepenggal cerita...
Rabu, 12 Januari 2011
Ibu Pulang
Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 2 Januari 2011)
KRINGG!! Itu dering telepon kedelapan. Aku tahu pasti siapa peneleponnya. Nenek.
Dia masih saja berusaha membujukku untuk pulang. Padahal jelas-jelas aku sudah mengatakan kepadanya kemarin bahwa Natal tahun ini aku tak pulang. Ya. Pulang. Rumah Nenek adalah rumah untuk pulang. Aku dibesarkan olehnya. Juga oleh ayahku. Tapi tidak oleh ibuku.
Ibu. Itulah alasan Nenek untuk menyuruhku pulang. “Sudah lima tahun kamu ndak pulang, Wid. Tahun ini kamu harus ada. Ibumu pulang,” kata Nenek kemarin lewat telepon. Aku tidak mengiyakan. Tidak pula menolak. Aku hanya meminta Nenek untuk meneleponku lagi keesokan harinya, dengan alasan aku harus meminta izin bosku untuk bisa cuti.
“Nenek akan telepon kamu besok sore ya. Jangan lupa,” tegas Nenek.
Nenek memang tipe orang yang suka mendesak. Kupikir-pikir sekarang, sifatnya itu memang aku perlukan. Jika tidak, mungkin aku akan mati. Atau akan jadi pengangguran di rumah. Atau pasrah saja jika ada orang yang melamarku. Atau jadi gila. Namun semua pilihan itu tidak terjadi padaku. Berkat Nenek. Dengan keras kepala, dia akan menyuruhku ini itu. Membangunkanku agar tak terlambat ke sekolah. Menyiapkan makanan untukku, hingga memilihkan kursus apa saja yang ketika tiba waktunya, ternyata memang berguna. Toh ketika aku sudah bisa hidup dengan kemampuanku sendiri, bahkan bisa dibilang berlebih, Nenek tak pernah sedikit pun meminta apa pun dariku. Dia hanya memintaku untuk pulang setiap Natal.
Dibanding Nenek, Ayah tak memiliki pengaruh apa pun buatku. Dia sama mati surinya denganku. Membeku. Diam. Hanya melihatku dengan matanya, tapi tidak dengan jiwanya. Dia sering hanya menghabiskan waktu di kamarnya, atau di kebun, atau di perpustakaan, atau di teras rumah. Aku sendiri tak tahu apa yang dikerjakannya. Di kemudian hari, kutemukan banyak sekali sketsa berisi sosok Ibu dan diriku di kamarnya.
Kata Nenek, Ayah menjadi pendiam seperti itu sejak kepergian Ibu. Saat aku berusia tiga tahun, Ibu pergi dari rumah tanpa pamit. Dia baru bilang keberadaannya setelah dua tahun kemudian. Sepucuk surat datang pada suatu sore. Dikirim dari Brooklyn, New York. Di surat itu, Ibu mengabarkan bahwa dia baik-baik saja dan lebih memilih tinggal di sana. Dia berjanji suatu saat akan pulang.
Janji itu ditepatinya saat ini. Ketika aku sudah berusia seperempat abad. Usia di mana aku sudah tak membutuhkannya lagi. Saat di mana aku sudah memiliki pendapat sendiri tentang konsep Ibu. Tentang perlu tidaknya memiliki seorang ibu dalam hidupku. Tentang tidak semua perempuan bisa dan harus menjadi Ibu.
Buatku, Nenek lebih dari seorang Ibu. Bahkan juga menjadi Ayah bagiku. Jadi aku merasa tak perlu untuk menemui Ibu. Tidak untuk Natal kali ini, maupun di hari yang lain. Namun Nenek begitu mendesakku untuk pulang. Lima Natal sebelumnya, aku tidak lagi pulang dan Nenek tidak berkata apa pun. Dia sudah sangat mengerti aku telah memiliki kehidupan sendiri. Justru karena aku lama tak pulang inilah, Nenek menggunakannya sebagai senjata untuk memaksaku.
“Nenek ndak masalah kamu sudah lama ndak pulang. Bahkan Nenek juga ndak pernah minta apa pun dari kamu kan? Sekarang Nenek cuma minta kamu pulang, tapi kamu masih mikir-mikir. Sudahlah. Jika kamu ndak mau pulang karena ibumu, setidaknya kamu pulang buat Nenek,” pinta Nenek dengan nada kesal. Ketimbang memelas atau mengiba, Nenek memang lebih nyaman untuk bersikap marah atau ngambek. Setahuku dia memang bukan tipe nenek-nenek tua yang lemah. Tak heran jika dia masih bisa mengurus rumah sendiri di usia hampir 80 tahun hingga dua tahun lalu, kusewa seorang pembantu untuk membantunya. Usul yang ditolaknya mentah-mentah, namun Nenek berhasil kuancam untuk tidak mengusirnya.
“Dia sudah tidak punya rumah lagi, Nek. Kalau Nenek mengusirnya, dia bisa bunuh diri,” kataku.
Sesuai dengan iman Kristianinya yang begitu kuat, Nenek sangat membenci bunuh diri. Karena itulah dia mati-matian menjagaku dan Ayah untuk tidak mengakhiri hidup dengan tangan sendiri.
Pikiran tentang mengakhiri hidup sebenarnya tak pernah terlintas di benakku. Tidak dengan Ayah. Aku tahu dia sudah tak ada keinginan hidup tanpa Ibu di sisinya. Namun setelah bertahun-tahun kemudian, aku jadi berpikir mungkin karena kesetiaannya itulah Ibu pergi meninggalkannya.
***
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang tepat pada malam Natal. Nenek terlihat kesal karena aku melewatkan misa malam Natal di gereja. Aku memang sengaja karena aku tidak berminat bertemu dengan orang-orang yang mungkin masih mengenalku jika aku misa bersama Nenek di gereja kota kecil ini. “Padahal tadi aku bertemu dengan teman-teman misdinarmu dulu, lho. Mereka sudah berkeluarga dan punya anak,” kata Nenek sambil menata piring di meja untuk makan malam. Aku hanya mengangguk malas.
Sejak aku tiba di rumah Nenek, aku memilih diam. Apalagi ketika bertemu Ibu. Begitu aku memasuki rumah, Nenek langsung menarikku ke ruang makan dan memperkenalkan seorang perempuan yang sedang duduk di kursi makan. Begitu melihatku, dia segera berdiri.
“Wid, apa kabar?” ujarnya sambil mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman. Kedua telapak tangan kami berjabatan. Seperti sepasang asing yang baru akan memperkenalkan diri.
“Baik. Bagaimana perjalanan Ibu?” tanyaku sambil menarik kursi di dekatnya.
Dan mengalirlah pembicaraan di antara kami bertiga: aku, Ibu, dan Nenek.
Ibu seorang perempuan yang tenang. Cara bicaranya teratur. Senyumnya tipis dan seperlunya. Rambutnya panjang sebahu dengan sebagian uban di beberapa tempat. Tubuhnya kurus. Namun terlihat kuat dan kokoh. Meski kerut di beberapa bagian di wajahnya jelas terlihat, Ibu terlihat masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikannya di masa lalu. Bentuk wajahnya oval dengan alis yang tebal dan hidung yang mancung. Sorot matanya tajam namun teduh.
Pembicaraan kami lebih banyak tentang kehidupan Ibu di sana yang bekerja di sebuah galeri seni. Kemudian tentang penerbangan yang melelahkan dan rasa kangennya akan masakan Indonesia. Di Brooklyn, Ibu jarang masak. Tapi dia tahu tempat-tempat di New York yang menjual bumbu-bumbu Indonesia. Perbincangan kami terhenti karena Nenek sudah mengantuk. Kami pun berpisah dan menuju kamar masing-masing. Malam itu, Ibu tidur di kamar Ayah.
Tengah malam aku terbangun. Entah mimpi apa yang membangunkanku, aku sudah lupa. Yang jelas aku terbangun dengan perasaan hampa. Kuputuskan keluar kamar untuk mengambil air minum. Tenggorokanku terasa kering. Di dapur, aku melihat setitik cahaya di teras taman belakang. Aku bergegas ke sana dan melihat Ibu tengah duduk sambil mengisap rokok.
“Selamat Natal, Wid,” ujar Ibu sambil menawarkan rokok kepadaku.
Aku menggeleng. “Selamat Natal juga, Bu.”
“Tak bisa tidur atau terbangun?” tanyanya.
“Terbangun.”
Agak lama keheningan menguasai kami berdua. Akhirnya Ibu yang pertama mengeluarkan suara saat rokoknya habis.
“Bagaimana suamiku meninggal saat itu?”
“Ayah meninggal saat tidur. Aku dan Nenek tak mengetahuinya sampai pagi, ketika Nenek hendak membangunkan dia.”
“Begitu ya. Tahukah kamu dari dulu dia menginginkan kematian seperti itu. Kematian yang mengendap-endap. Bak pencuri. Tak meninggalkan tanda apa pun. Tak merepotkan siapa pun,” kata Ibu sambil memandang kegelapan.
“Kenapa Ibu tak pulang waktu Ayah meninggal?”
“Aku tak cukup kuat melihatnya tak bisa lagi bergerak, tersenyum, atau sekadar menggodaku dengan cubitan di pipiku. Tahukah kamu, dia dulu sangat suka duduk di sini. Sambil melukis atau membersihkan rumput. Sementara aku melihatnya dari balik jendela dapur. Begitu kamu lahir, dia tak lagi melukis. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengajakmu bermain di sini. Kamu didudukkan di rumput, dan kemudian dia akan merangkai berbagai macam bunga untuk dijadikan mahkota di kepalamu,” kata Ibu.
“Sepertinya indah dan menyenangkan. Lantas kenapa Ibu pergi?” akhirnya aku berhasil mempertanyakan hal yang dari dulu membuatku geram.
“Aku belum siap memiliki kamu. Sementara dia menginginkanmu begitu kami menikah. Ketika akhirnya aku hamil, dia semakin membuatku sesak dengan perhatian dan cintanya yang begitu sempurna. Membuatku merasa bersalah dari waktu ke waktu karena aku tak pernah bisa mencintainya sebesar itu. Saat kamu lahir, aku tahu dia akan bisa mencintaimu sebesar dia mencintaiku. Kujadikan dirimu sebagai penggantiku.”
“Ayah tak pernah bisa menjadikan siapa pun sebagai pengganti Ibu. Termasuk diriku.” “Aku tahu. Perpisahan yang sia-sia,” ujar Ibu sambil beranjak dari duduknya. “Aku sudah mengantuk, Wid. Aku tidur dulu ya,” pamit Ibu.
Aku mengangguk dan memutuskan tetap duduk sambil menunggu fajar. Dalam kegelapan, aku membayangkan kehidupanku jika Ibu tak pernah pergi. Mungkin Ayah tetap hidup dan setiap tahun aku akan pulang untuk merayakan Natal. Kemudian kami semua akan berkumpul di dekat pohon natal sambil saling bertukar kado. Atau seperti di film-film Hollywood, aku, Ibu, dan Nenek akan memasak hidangan natal bersama. Mungkin juga akan muncul pertengkaran layaknya sebuah keluarga, ketika aku memperkenalkan calon suami saat Natal tiba dan orangtuaku tidak menyetujuinya. Bahkan bukan tidak mungkin aku sudah memberikan cucu untuk Ayah dan Ibu.
Dua hari setelah Natal, Ibu pulang. Aku tetap tinggal di rumah Nenek sampai Tahun Baru. Setelah kepergiannya, aku akhirnya menyadari bahwa Ibu pergi karena tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Kesimpulan ini kudapatkan dari cerita Nenek dan hadiah Natal dari Ibu. Sewaktu kubuka, hadiah itu berisi album foto yang memasang foto-fotoku sewaktu kecil. Aku belum pernah melihat foto-foto itu.
Sembari melihat isi album foto itu, Nenek akhirnya bercerita bahwa Ayah begitu menginginkan anak dalam pernikahannya dengan Ibu. Aku lahir lima tahun kemudian. Namun kehadiranku tak bisa menghalangi kepergian Ibu. Bagi Ayah, aku adalah hadiah dalam hidupnya. Sementara bagi Ibu, kehadiranku adalah memorabilia ketidaksetiaannya. Kini aku menyadari mengapa wajahku tidak sama dengan Ayah maupun Ibu. Di halaman terakhir album foto itu, kulihat diriku sewaktu kecil berada di sebuah taman. Aku dipangku Ibu yang sedang duduk bersama seorang lelaki dengan sorot mata dan senyum yang sama denganku. (*)
Jakarta, Desember 2010
Analisis Cerpen Ibu Pulang Dari Media Cetak Kompas tanggal 2 Januari 2011 oleh Dewi Ria Utari.
A. Dari Segi Struktur
Analisis dari segi struktur cerpen “Ibu Pulang” meliputi tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.
1. Tema
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini mengandung tema Kesetiaan dalam sebuah keluarga. Sebuah keluarga yang terpisah karena sebuah cinta yang begitu dalam. Cinta yang diberikan suami kepada istri hingga membuat istri terus merasa bersalah atas keadaan ini.
2. Penokohan
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini terdapat empat tokoh yaitu Aku, Nenek, Ibu, dan Ayah.
Tokoh Aku dalam cerpen tersebut menggambarkan sebuah sifat yang merasa dirinya tidak membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya terutama ibunya karena Ibu meninggalkannya ketika ia kecil dan Ibu datang ketika Ia sudah tidak membutuhkannya lagi. Menurut Ia nenek sudah menggantikan Ibu sekaligus Ayah untuk dirinya.
Tokoh Nenek dalam cerpen tersebut menggambarkan sifat yang sangat bertanggungjawab dan berjiwa besar. Nenek sanggup merawat cucunya dengan penuh kasih sayang dan sangat mengerti keadaan cucunya. Nenek juga orang yang disiplin dan tegas sehingga cucunya bisa meraih masa depan yang cemerlang.
Tokoh Ibu dalam cerpen tersebut menggambarkan sebuah Ibu yang menikah dengan seorang laki-laki namun Ia mengandung anak dari laki-laki lain yang bukan suaminya. Dia merasa bersalah sehingga Ia harus pergi meninggalkan keluraganya begitu saja
Tokoh Ayah dalam cerpen tersebut berperan menjadi orang yang sangat mencintai istrinya dengan apa adanya bagaimanapu keadaannya. Sungguh laki-laki yang baik karena cintanya tulus untuk istrinya. Namun ia harus menjalani hidup dengan hampa tanpa istrinya.
3. Alur cerita
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini menggunakan alur mundur. Cerita ini dimulai dari seorang nenek yang meminta cucunya pulang pada malam natal karena nenek ingin sang cucu bertemu dengan Ibunya yang telah lama pergi dan baru natal ini bisa menemui anaknya yaitu yang menjadi sosok “Aku” dalam cerpen tersebut.
Permasalahan mulai terjadi ketika “Aku” tidak ingin pulang karena ia harus bertemu Ibunya yang telah meninggalkan dirinya dan Ayahnya hingga Ayah meninggal. “Aku” merasa tidak mempunyai Ibu dan tidak ingin bertemu dengan Ibunya, namun karena Nenek yang meminta maka “Aku” mau pulang saat natal.
Saat Ibunya tengah duduk sendirian maka “Aku” menanyakan suatu hal yang membuatnya geram selama ini yaitu kenapa Ibunya pergi meninggalkan “Aku” dan Ayah. Ibu menceritakan semuanya kepada “Aku”, semua itu Ibu lakukan karena Ibu tidak mau melahirkan anak dari laki-laki yang bukan suaminya sedangkan kebesaran hati suaminya itu yang menginginkan “Aku” lahir. Ibu merasa sudah menyakitinya oleh karena itu Ibu pergi dari Ayah dan meinggalkanku.
4. Latar Cerita
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini menggunakan latar tempat dan waktu.
a. Latar Tempat
1) Di dalam rumah Nenek
Disini diceritakan Ibu sedang duduk di teras taman belakang.
2) Di sebuah kontrakan tempat “Aku” tinggal.
Disini diceritakan bahwa Aku meminta Nenek untuk menelponnya besok pagi karena Aku ingin minta cuti dulu dari tempat kerja.
3) Di Brooklyn New York
Dalam cerpen tersebuat dijelaskan pada kalimat “Di Brooklyn, Ibu jarang masak. Tapi dia tahu tempat-tempat di New York yang menjual bumbu-bumbu Indonesia”.
b. Latar Waktu
1) Malam hari
Dalam cerpen tersebut dijelaskan pada kalimat “Malam itu, Ibu tidur di kamar Ayah. Tengah malam aku terbangun.” Selain itu juga cerita ini pada malam natal.
5. Sudut Pandang Pengarang
Dalam cerpen tersebut pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama. Pengarang menceritakan kehidupan dirinya sendiri dalam tulisannya dengan konflik yang terjadi pada keluarganya.
6. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen tersebut menggunakan bahasa yang mudah dipahami sehingga pembaca mudah untuk memahami isi ceritanya. Selain itu cerpen ini juga menggunakan istilah – istilah yang menunjukan ciri khas yang ditunjukan pada kata “ndak” dan “ninik mamak”. Gaya bahasa yang digunakan baik dan menarik.
7. Amanat
Dalam cerpen tersebut terdapat berbagai pesan atau amanat yang disampaikan melalui tokoh – tokohnya.
a. Pesan yang tersirat untuk orang tua melalui cerpen tersebut yaitu sebagai orang tua janganlah lari dari tanggung jawab yang musti mengurus anaknya kala anaknya masih kecil meskipun anak itu tidak kita harapkan kdatangannya. Anak merupakan karunia Tuhan yang harus dijaga dan dirawat penuh kasih sayang.
b. Pesan yang tersirat dari tokoh Wid yang diperankan oleh “Aku” yaitu sebagai anak haruslah berbakti kepada kedua orang tuanya, apalagi seorang Ibu. Surga ditelapak kaki Ibu, begitulah kata pepatah. Janganlah berburuk sangka dahulu sebelum tahu latar belakangnya.
c. Pesan yang tersirat dari tokoh Nenek dalam cerpen diatas yaitu sudah sangat baik karena keteguhan hatinya dalam menuntun cucu dan anaknya ke masa depan yang lebih baik.
B. Dari segi Makna
1. Kesimpulan
Dalam cerpen “Ibu Pulang” tersebut telah diceritakan bahwa seorang Nenek yang ingin sekali cucunya pulang karena Ibu ingin bertemu dengannya. Ibu yang telah lama meninggalkannya kala ia masih kecil. Ibu meninggalkan Aku dan Ayah ke Brooklyn New York hanya dikarenakan Ibu tidak ingin Aku lahir sedangkan Ayah sangat menginginkannya. Ibu tidak menginginkanku karena Aku ada bukan dengan Ayah.
Permasalahan ada pada sang Ibu. Kebaikan Ayah terhadap Ibu membuat Ibu tidak tahan dan meninggalkannya. Ibu tidak sanggup melihat Ayah yang begitu menyayanginya. Padahal Ayah tak bisa tanpa Ibu hingga Ayah meninggalpun Ibu tidak kunjung pulang. Ayah meninggal dalam keadaan tidur tanpa merepotkan orang lain dan itu memang keinginannnya.
Setelah merayakan Natal bersama, Nenek memberikan kotak yang berisi foto-foto masa kecilku yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Disitu terlihat Aku dipangku oleh dua orang yaitu Ibu dan Ayahku.
2. Saran
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini pengarang sebaiknya penjelasan pada konflik lebih di tingakatkan lagi supaya bisa lebih kelihatan gregetnya dengan bahasa yang lebih menarik pula. Niscaya pembaca akan lebih suka dan tertarik dengan cerpen ini.
Dengan membaca cerpen “Ibu Pulang” diharapkan dapat memberikan manfaat dan pembaca dapat mengambil hikmah dan manfaatnya. Sebagai orang tua sebaiknya menerima apapun yang diberikan Tuhan sebagai karunia yang terindah. Menjaga anak dengan ketulusan dan kasih sayang karena Anak adalah titipan Tuhan.
Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 2 Januari 2011)
KRINGG!! Itu dering telepon kedelapan. Aku tahu pasti siapa peneleponnya. Nenek.
Dia masih saja berusaha membujukku untuk pulang. Padahal jelas-jelas aku sudah mengatakan kepadanya kemarin bahwa Natal tahun ini aku tak pulang. Ya. Pulang. Rumah Nenek adalah rumah untuk pulang. Aku dibesarkan olehnya. Juga oleh ayahku. Tapi tidak oleh ibuku.
Ibu. Itulah alasan Nenek untuk menyuruhku pulang. “Sudah lima tahun kamu ndak pulang, Wid. Tahun ini kamu harus ada. Ibumu pulang,” kata Nenek kemarin lewat telepon. Aku tidak mengiyakan. Tidak pula menolak. Aku hanya meminta Nenek untuk meneleponku lagi keesokan harinya, dengan alasan aku harus meminta izin bosku untuk bisa cuti.
“Nenek akan telepon kamu besok sore ya. Jangan lupa,” tegas Nenek.
Nenek memang tipe orang yang suka mendesak. Kupikir-pikir sekarang, sifatnya itu memang aku perlukan. Jika tidak, mungkin aku akan mati. Atau akan jadi pengangguran di rumah. Atau pasrah saja jika ada orang yang melamarku. Atau jadi gila. Namun semua pilihan itu tidak terjadi padaku. Berkat Nenek. Dengan keras kepala, dia akan menyuruhku ini itu. Membangunkanku agar tak terlambat ke sekolah. Menyiapkan makanan untukku, hingga memilihkan kursus apa saja yang ketika tiba waktunya, ternyata memang berguna. Toh ketika aku sudah bisa hidup dengan kemampuanku sendiri, bahkan bisa dibilang berlebih, Nenek tak pernah sedikit pun meminta apa pun dariku. Dia hanya memintaku untuk pulang setiap Natal.
Dibanding Nenek, Ayah tak memiliki pengaruh apa pun buatku. Dia sama mati surinya denganku. Membeku. Diam. Hanya melihatku dengan matanya, tapi tidak dengan jiwanya. Dia sering hanya menghabiskan waktu di kamarnya, atau di kebun, atau di perpustakaan, atau di teras rumah. Aku sendiri tak tahu apa yang dikerjakannya. Di kemudian hari, kutemukan banyak sekali sketsa berisi sosok Ibu dan diriku di kamarnya.
Kata Nenek, Ayah menjadi pendiam seperti itu sejak kepergian Ibu. Saat aku berusia tiga tahun, Ibu pergi dari rumah tanpa pamit. Dia baru bilang keberadaannya setelah dua tahun kemudian. Sepucuk surat datang pada suatu sore. Dikirim dari Brooklyn, New York. Di surat itu, Ibu mengabarkan bahwa dia baik-baik saja dan lebih memilih tinggal di sana. Dia berjanji suatu saat akan pulang.
Janji itu ditepatinya saat ini. Ketika aku sudah berusia seperempat abad. Usia di mana aku sudah tak membutuhkannya lagi. Saat di mana aku sudah memiliki pendapat sendiri tentang konsep Ibu. Tentang perlu tidaknya memiliki seorang ibu dalam hidupku. Tentang tidak semua perempuan bisa dan harus menjadi Ibu.
Buatku, Nenek lebih dari seorang Ibu. Bahkan juga menjadi Ayah bagiku. Jadi aku merasa tak perlu untuk menemui Ibu. Tidak untuk Natal kali ini, maupun di hari yang lain. Namun Nenek begitu mendesakku untuk pulang. Lima Natal sebelumnya, aku tidak lagi pulang dan Nenek tidak berkata apa pun. Dia sudah sangat mengerti aku telah memiliki kehidupan sendiri. Justru karena aku lama tak pulang inilah, Nenek menggunakannya sebagai senjata untuk memaksaku.
“Nenek ndak masalah kamu sudah lama ndak pulang. Bahkan Nenek juga ndak pernah minta apa pun dari kamu kan? Sekarang Nenek cuma minta kamu pulang, tapi kamu masih mikir-mikir. Sudahlah. Jika kamu ndak mau pulang karena ibumu, setidaknya kamu pulang buat Nenek,” pinta Nenek dengan nada kesal. Ketimbang memelas atau mengiba, Nenek memang lebih nyaman untuk bersikap marah atau ngambek. Setahuku dia memang bukan tipe nenek-nenek tua yang lemah. Tak heran jika dia masih bisa mengurus rumah sendiri di usia hampir 80 tahun hingga dua tahun lalu, kusewa seorang pembantu untuk membantunya. Usul yang ditolaknya mentah-mentah, namun Nenek berhasil kuancam untuk tidak mengusirnya.
“Dia sudah tidak punya rumah lagi, Nek. Kalau Nenek mengusirnya, dia bisa bunuh diri,” kataku.
Sesuai dengan iman Kristianinya yang begitu kuat, Nenek sangat membenci bunuh diri. Karena itulah dia mati-matian menjagaku dan Ayah untuk tidak mengakhiri hidup dengan tangan sendiri.
Pikiran tentang mengakhiri hidup sebenarnya tak pernah terlintas di benakku. Tidak dengan Ayah. Aku tahu dia sudah tak ada keinginan hidup tanpa Ibu di sisinya. Namun setelah bertahun-tahun kemudian, aku jadi berpikir mungkin karena kesetiaannya itulah Ibu pergi meninggalkannya.
***
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang tepat pada malam Natal. Nenek terlihat kesal karena aku melewatkan misa malam Natal di gereja. Aku memang sengaja karena aku tidak berminat bertemu dengan orang-orang yang mungkin masih mengenalku jika aku misa bersama Nenek di gereja kota kecil ini. “Padahal tadi aku bertemu dengan teman-teman misdinarmu dulu, lho. Mereka sudah berkeluarga dan punya anak,” kata Nenek sambil menata piring di meja untuk makan malam. Aku hanya mengangguk malas.
Sejak aku tiba di rumah Nenek, aku memilih diam. Apalagi ketika bertemu Ibu. Begitu aku memasuki rumah, Nenek langsung menarikku ke ruang makan dan memperkenalkan seorang perempuan yang sedang duduk di kursi makan. Begitu melihatku, dia segera berdiri.
“Wid, apa kabar?” ujarnya sambil mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman. Kedua telapak tangan kami berjabatan. Seperti sepasang asing yang baru akan memperkenalkan diri.
“Baik. Bagaimana perjalanan Ibu?” tanyaku sambil menarik kursi di dekatnya.
Dan mengalirlah pembicaraan di antara kami bertiga: aku, Ibu, dan Nenek.
Ibu seorang perempuan yang tenang. Cara bicaranya teratur. Senyumnya tipis dan seperlunya. Rambutnya panjang sebahu dengan sebagian uban di beberapa tempat. Tubuhnya kurus. Namun terlihat kuat dan kokoh. Meski kerut di beberapa bagian di wajahnya jelas terlihat, Ibu terlihat masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikannya di masa lalu. Bentuk wajahnya oval dengan alis yang tebal dan hidung yang mancung. Sorot matanya tajam namun teduh.
Pembicaraan kami lebih banyak tentang kehidupan Ibu di sana yang bekerja di sebuah galeri seni. Kemudian tentang penerbangan yang melelahkan dan rasa kangennya akan masakan Indonesia. Di Brooklyn, Ibu jarang masak. Tapi dia tahu tempat-tempat di New York yang menjual bumbu-bumbu Indonesia. Perbincangan kami terhenti karena Nenek sudah mengantuk. Kami pun berpisah dan menuju kamar masing-masing. Malam itu, Ibu tidur di kamar Ayah.
Tengah malam aku terbangun. Entah mimpi apa yang membangunkanku, aku sudah lupa. Yang jelas aku terbangun dengan perasaan hampa. Kuputuskan keluar kamar untuk mengambil air minum. Tenggorokanku terasa kering. Di dapur, aku melihat setitik cahaya di teras taman belakang. Aku bergegas ke sana dan melihat Ibu tengah duduk sambil mengisap rokok.
“Selamat Natal, Wid,” ujar Ibu sambil menawarkan rokok kepadaku.
Aku menggeleng. “Selamat Natal juga, Bu.”
“Tak bisa tidur atau terbangun?” tanyanya.
“Terbangun.”
Agak lama keheningan menguasai kami berdua. Akhirnya Ibu yang pertama mengeluarkan suara saat rokoknya habis.
“Bagaimana suamiku meninggal saat itu?”
“Ayah meninggal saat tidur. Aku dan Nenek tak mengetahuinya sampai pagi, ketika Nenek hendak membangunkan dia.”
“Begitu ya. Tahukah kamu dari dulu dia menginginkan kematian seperti itu. Kematian yang mengendap-endap. Bak pencuri. Tak meninggalkan tanda apa pun. Tak merepotkan siapa pun,” kata Ibu sambil memandang kegelapan.
“Kenapa Ibu tak pulang waktu Ayah meninggal?”
“Aku tak cukup kuat melihatnya tak bisa lagi bergerak, tersenyum, atau sekadar menggodaku dengan cubitan di pipiku. Tahukah kamu, dia dulu sangat suka duduk di sini. Sambil melukis atau membersihkan rumput. Sementara aku melihatnya dari balik jendela dapur. Begitu kamu lahir, dia tak lagi melukis. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengajakmu bermain di sini. Kamu didudukkan di rumput, dan kemudian dia akan merangkai berbagai macam bunga untuk dijadikan mahkota di kepalamu,” kata Ibu.
“Sepertinya indah dan menyenangkan. Lantas kenapa Ibu pergi?” akhirnya aku berhasil mempertanyakan hal yang dari dulu membuatku geram.
“Aku belum siap memiliki kamu. Sementara dia menginginkanmu begitu kami menikah. Ketika akhirnya aku hamil, dia semakin membuatku sesak dengan perhatian dan cintanya yang begitu sempurna. Membuatku merasa bersalah dari waktu ke waktu karena aku tak pernah bisa mencintainya sebesar itu. Saat kamu lahir, aku tahu dia akan bisa mencintaimu sebesar dia mencintaiku. Kujadikan dirimu sebagai penggantiku.”
“Ayah tak pernah bisa menjadikan siapa pun sebagai pengganti Ibu. Termasuk diriku.” “Aku tahu. Perpisahan yang sia-sia,” ujar Ibu sambil beranjak dari duduknya. “Aku sudah mengantuk, Wid. Aku tidur dulu ya,” pamit Ibu.
Aku mengangguk dan memutuskan tetap duduk sambil menunggu fajar. Dalam kegelapan, aku membayangkan kehidupanku jika Ibu tak pernah pergi. Mungkin Ayah tetap hidup dan setiap tahun aku akan pulang untuk merayakan Natal. Kemudian kami semua akan berkumpul di dekat pohon natal sambil saling bertukar kado. Atau seperti di film-film Hollywood, aku, Ibu, dan Nenek akan memasak hidangan natal bersama. Mungkin juga akan muncul pertengkaran layaknya sebuah keluarga, ketika aku memperkenalkan calon suami saat Natal tiba dan orangtuaku tidak menyetujuinya. Bahkan bukan tidak mungkin aku sudah memberikan cucu untuk Ayah dan Ibu.
Dua hari setelah Natal, Ibu pulang. Aku tetap tinggal di rumah Nenek sampai Tahun Baru. Setelah kepergiannya, aku akhirnya menyadari bahwa Ibu pergi karena tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Kesimpulan ini kudapatkan dari cerita Nenek dan hadiah Natal dari Ibu. Sewaktu kubuka, hadiah itu berisi album foto yang memasang foto-fotoku sewaktu kecil. Aku belum pernah melihat foto-foto itu.
Sembari melihat isi album foto itu, Nenek akhirnya bercerita bahwa Ayah begitu menginginkan anak dalam pernikahannya dengan Ibu. Aku lahir lima tahun kemudian. Namun kehadiranku tak bisa menghalangi kepergian Ibu. Bagi Ayah, aku adalah hadiah dalam hidupnya. Sementara bagi Ibu, kehadiranku adalah memorabilia ketidaksetiaannya. Kini aku menyadari mengapa wajahku tidak sama dengan Ayah maupun Ibu. Di halaman terakhir album foto itu, kulihat diriku sewaktu kecil berada di sebuah taman. Aku dipangku Ibu yang sedang duduk bersama seorang lelaki dengan sorot mata dan senyum yang sama denganku. (*)
Jakarta, Desember 2010
Analisis Cerpen Ibu Pulang Dari Media Cetak Kompas tanggal 2 Januari 2011 oleh Dewi Ria Utari.
A. Dari Segi Struktur
Analisis dari segi struktur cerpen “Ibu Pulang” meliputi tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.
1. Tema
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini mengandung tema Kesetiaan dalam sebuah keluarga. Sebuah keluarga yang terpisah karena sebuah cinta yang begitu dalam. Cinta yang diberikan suami kepada istri hingga membuat istri terus merasa bersalah atas keadaan ini.
2. Penokohan
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini terdapat empat tokoh yaitu Aku, Nenek, Ibu, dan Ayah.
Tokoh Aku dalam cerpen tersebut menggambarkan sebuah sifat yang merasa dirinya tidak membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya terutama ibunya karena Ibu meninggalkannya ketika ia kecil dan Ibu datang ketika Ia sudah tidak membutuhkannya lagi. Menurut Ia nenek sudah menggantikan Ibu sekaligus Ayah untuk dirinya.
Tokoh Nenek dalam cerpen tersebut menggambarkan sifat yang sangat bertanggungjawab dan berjiwa besar. Nenek sanggup merawat cucunya dengan penuh kasih sayang dan sangat mengerti keadaan cucunya. Nenek juga orang yang disiplin dan tegas sehingga cucunya bisa meraih masa depan yang cemerlang.
Tokoh Ibu dalam cerpen tersebut menggambarkan sebuah Ibu yang menikah dengan seorang laki-laki namun Ia mengandung anak dari laki-laki lain yang bukan suaminya. Dia merasa bersalah sehingga Ia harus pergi meninggalkan keluraganya begitu saja
Tokoh Ayah dalam cerpen tersebut berperan menjadi orang yang sangat mencintai istrinya dengan apa adanya bagaimanapu keadaannya. Sungguh laki-laki yang baik karena cintanya tulus untuk istrinya. Namun ia harus menjalani hidup dengan hampa tanpa istrinya.
3. Alur cerita
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini menggunakan alur mundur. Cerita ini dimulai dari seorang nenek yang meminta cucunya pulang pada malam natal karena nenek ingin sang cucu bertemu dengan Ibunya yang telah lama pergi dan baru natal ini bisa menemui anaknya yaitu yang menjadi sosok “Aku” dalam cerpen tersebut.
Permasalahan mulai terjadi ketika “Aku” tidak ingin pulang karena ia harus bertemu Ibunya yang telah meninggalkan dirinya dan Ayahnya hingga Ayah meninggal. “Aku” merasa tidak mempunyai Ibu dan tidak ingin bertemu dengan Ibunya, namun karena Nenek yang meminta maka “Aku” mau pulang saat natal.
Saat Ibunya tengah duduk sendirian maka “Aku” menanyakan suatu hal yang membuatnya geram selama ini yaitu kenapa Ibunya pergi meninggalkan “Aku” dan Ayah. Ibu menceritakan semuanya kepada “Aku”, semua itu Ibu lakukan karena Ibu tidak mau melahirkan anak dari laki-laki yang bukan suaminya sedangkan kebesaran hati suaminya itu yang menginginkan “Aku” lahir. Ibu merasa sudah menyakitinya oleh karena itu Ibu pergi dari Ayah dan meinggalkanku.
4. Latar Cerita
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini menggunakan latar tempat dan waktu.
a. Latar Tempat
1) Di dalam rumah Nenek
Disini diceritakan Ibu sedang duduk di teras taman belakang.
2) Di sebuah kontrakan tempat “Aku” tinggal.
Disini diceritakan bahwa Aku meminta Nenek untuk menelponnya besok pagi karena Aku ingin minta cuti dulu dari tempat kerja.
3) Di Brooklyn New York
Dalam cerpen tersebuat dijelaskan pada kalimat “Di Brooklyn, Ibu jarang masak. Tapi dia tahu tempat-tempat di New York yang menjual bumbu-bumbu Indonesia”.
b. Latar Waktu
1) Malam hari
Dalam cerpen tersebut dijelaskan pada kalimat “Malam itu, Ibu tidur di kamar Ayah. Tengah malam aku terbangun.” Selain itu juga cerita ini pada malam natal.
5. Sudut Pandang Pengarang
Dalam cerpen tersebut pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama. Pengarang menceritakan kehidupan dirinya sendiri dalam tulisannya dengan konflik yang terjadi pada keluarganya.
6. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen tersebut menggunakan bahasa yang mudah dipahami sehingga pembaca mudah untuk memahami isi ceritanya. Selain itu cerpen ini juga menggunakan istilah – istilah yang menunjukan ciri khas yang ditunjukan pada kata “ndak” dan “ninik mamak”. Gaya bahasa yang digunakan baik dan menarik.
7. Amanat
Dalam cerpen tersebut terdapat berbagai pesan atau amanat yang disampaikan melalui tokoh – tokohnya.
a. Pesan yang tersirat untuk orang tua melalui cerpen tersebut yaitu sebagai orang tua janganlah lari dari tanggung jawab yang musti mengurus anaknya kala anaknya masih kecil meskipun anak itu tidak kita harapkan kdatangannya. Anak merupakan karunia Tuhan yang harus dijaga dan dirawat penuh kasih sayang.
b. Pesan yang tersirat dari tokoh Wid yang diperankan oleh “Aku” yaitu sebagai anak haruslah berbakti kepada kedua orang tuanya, apalagi seorang Ibu. Surga ditelapak kaki Ibu, begitulah kata pepatah. Janganlah berburuk sangka dahulu sebelum tahu latar belakangnya.
c. Pesan yang tersirat dari tokoh Nenek dalam cerpen diatas yaitu sudah sangat baik karena keteguhan hatinya dalam menuntun cucu dan anaknya ke masa depan yang lebih baik.
B. Dari segi Makna
1. Kesimpulan
Dalam cerpen “Ibu Pulang” tersebut telah diceritakan bahwa seorang Nenek yang ingin sekali cucunya pulang karena Ibu ingin bertemu dengannya. Ibu yang telah lama meninggalkannya kala ia masih kecil. Ibu meninggalkan Aku dan Ayah ke Brooklyn New York hanya dikarenakan Ibu tidak ingin Aku lahir sedangkan Ayah sangat menginginkannya. Ibu tidak menginginkanku karena Aku ada bukan dengan Ayah.
Permasalahan ada pada sang Ibu. Kebaikan Ayah terhadap Ibu membuat Ibu tidak tahan dan meninggalkannya. Ibu tidak sanggup melihat Ayah yang begitu menyayanginya. Padahal Ayah tak bisa tanpa Ibu hingga Ayah meninggalpun Ibu tidak kunjung pulang. Ayah meninggal dalam keadaan tidur tanpa merepotkan orang lain dan itu memang keinginannnya.
Setelah merayakan Natal bersama, Nenek memberikan kotak yang berisi foto-foto masa kecilku yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Disitu terlihat Aku dipangku oleh dua orang yaitu Ibu dan Ayahku.
2. Saran
Dalam cerpen “Ibu Pulang” ini pengarang sebaiknya penjelasan pada konflik lebih di tingakatkan lagi supaya bisa lebih kelihatan gregetnya dengan bahasa yang lebih menarik pula. Niscaya pembaca akan lebih suka dan tertarik dengan cerpen ini.
Dengan membaca cerpen “Ibu Pulang” diharapkan dapat memberikan manfaat dan pembaca dapat mengambil hikmah dan manfaatnya. Sebagai orang tua sebaiknya menerima apapun yang diberikan Tuhan sebagai karunia yang terindah. Menjaga anak dengan ketulusan dan kasih sayang karena Anak adalah titipan Tuhan.
Kamis, 23 Desember 2010
SESUNGGUHNYA CINTA
CINTA DAN PERKAWINAN
Suatu hari plato bertanya pada gurunya, “apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya menjawab, “ada lading gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Guru bertanya,”mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab,”aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan di depan sana, jadi tak aku ambil ranting tersebut”
Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru aku sadari bahwasannya ranting-ranting yang aku temukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak ku ambil sebatangpun pada akhirnya.
Guru kemudian menawab,”jadi itulah cinta”
Dihari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,”apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya pun menjawab,”ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Plato pun menjawab,”sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hamper setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.
Jadi, kesempayan ini, aku melihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi ku putuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”
Guru pun kemudian menjawab, “dan ya itulah perkawinan”
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan….tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali.
Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.
Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya.
Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkannya. Perkawinan itu, karena sebenarnya kesmpurnaan itu hampa adanya.
Suatu hari plato bertanya pada gurunya, “apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya menjawab, “ada lading gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Guru bertanya,”mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab,”aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan di depan sana, jadi tak aku ambil ranting tersebut”
Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru aku sadari bahwasannya ranting-ranting yang aku temukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak ku ambil sebatangpun pada akhirnya.
Guru kemudian menawab,”jadi itulah cinta”
Dihari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,”apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya pun menjawab,”ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Plato pun menjawab,”sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hamper setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.
Jadi, kesempayan ini, aku melihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi ku putuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”
Guru pun kemudian menjawab, “dan ya itulah perkawinan”
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan….tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali.
Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.
Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya.
Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkannya. Perkawinan itu, karena sebenarnya kesmpurnaan itu hampa adanya.
DEWASA
MEMBUKA PINTU KEDEWASAAN
Ada banyak jalan yang bisa kita terapkan untuk bisa menjadi lebih dewasa. Jalan-jalan itu memang harus kita lalui. Walaupun banyak suka dan dukanya di sana. Tetapi pintu-pintunya harus kita buka. Karena kedewasaan artinya kemampuan kita untuk menentukan menentukan hidup sendiri, mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mampu bertanggung jawab. Mari membuka pintu-pintu kedewasaan itu :
1. Berdiam sejenak, tidak terburu-buru
Salah satu ciri kedewasaan adalah kemampuan berfikir dengan tenang, tidak tergesa-gesa dan tidak didominasi oleh emosi. Setiap kita dikaruniai potensi untuk berfikir sebelum melakukan sesuatu, tanpa tergesa-gesa. Melakukan suatu pekerjaan dengan terburu-buru tidak berarti kita akan cepat mencapai tujuan denganlebih cepat, karena pekerjaan yang tanpa perhitungan dan pertimbangan yang masak adalah suatu tanda ketidaksabaran.
Seorang inspirator muslim yaitu KHomarudin Ibnu Mikam menasihati kita, “Sabar adalah kegigihan untuk senantiasa di jalan Allah dalam menerima suka maupun duka. Senantiasa bersyukur ketika mendapat kenikmatan. Senantiasa tawadhu bila menerima kesulitan”.
2. Jangan takut tntangan, karena itu akan mendewasakan
Kedewasaan adalah puncak dari kakuatan hidup yang harus kita miliki untuk member makna dan arti dalam perjalanan hidup kita. Jiwa ini perlu tantangan dan benturan. Sayyid Quthb, seorang pejuang dakwah islam yang syahid di tiang gantungan, mengerti betul hal ini. Katanya, “Hakikat imam tidak akan terbukti kesempurnaan dalam hati seseorang, sampai ia mengahadapi benturan upaya orang lain, yang berlawanan dengan imannya karena disinilah seseorang akan melakukan mujahadah (uapaya keras), sebagaimana orang lain melakukan mujahadah kepadanya, untuk mengahalanginya dari keimanan. Disinilah cakrawala iman akan tersingkap dan terbuka. Keterbukaan yang tidak pernah terjadi pada jiwa orang yang merasakan iman secara datar. (Syyid Quthb, Mustaqbal Li Haadzad Diin, 10).
Pilihan hidup ada pada keputusan diri kita sendiri. Jalan mana yang akan kita ambil semoga tidak karena pengaruh orang lain. Ya, bila kita menjalani hidup ini dengan datar-datar saja maka tidak ada tantangan disana. Mulailah hari ini dengan menantang diri untuk berubah lebih baik. Bangkitlah ke-6 kali bila kau sempat terjatuh untuk yang ke-5 kalinya.
Kaetika Rasulullah SAW menunjuk Usamah bin Hisyam menjadi panglima perang di usianya yang sangat belia, 17 tahun, bukanlah sebuah sensasi dan bukan pula sebuah kecerobohan. Sebab Usamah kemudian memang bisa menaklukan tantangan itu dan membuktikan kedewasaan dirinya, dengan kemampuannya mengemban amanah besar dan tidak pernah mempermasalahkan usianya di hadapan para sahabat yang lebih tua.
3. Berikanlah lebih banyak porsi untuk orang lain
“Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak dari pada waktu yang tersedia maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya dan jika anda punya kepentingan atau tugas selesaikanlah segera”. (Hasan Al-Banna).
Sangat terasa indah bila ditengah kesibukan kita masih sempatnya kita berkontribusi untuk orang lain, sesar dan kecilnya peran yang coba kita berikan pada orang lain tidak terlalu masalah karena yang terpenting adalah keberanian kita untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Terlebih bila hidup yang singkat ini, kita bisa menjadi inspirasi orang dalam hal kebaikan, dapat dipastikan pahala dari Allah akan terus mengalir.
Maka mari menjadi orang-orang yang akan membuat sejarah, yaitu orang –orang yang atas keinginannya sendiri konsen terhadap kepentingan kemanusiaan, mereka tidak mengambil hak untuk mendapatkan perlindungan, mereka hanya memiliki tanggung jawab, yang mereka lakukan dengan resiko apapun bagi dirinya.
4. Jangan banyak menggantungkan diri sendiri dari sikap orang lain
Mampu bersikap mandiri dan menentukan arah sendiri tanpa tergantung orang lain, adalah bagian dan cirri sikap kedewasaan. Seseorang yang dewasa adalah orang yang tahu menghargai dirinya, tahu memilih jalan yang wajar untuk dirinya sendiri. Dia percaya kepada kemampuannya dan serius dalam menjalani karyanya.
Seorsang Hasan Al-Banna mengatakan, “Bukanlah disebut pemuda ketika ia mengatakan ‘ini ayahku’. Tapi pemuda adalah ketika ia mengatakan’inilah aku’”.
5. Memiliki cita-cita tinggi dan pola pikir besar
Kita perlu memiliki obsesi dan cita-cita besar untuk mencapai sesuatu yang besar. Kedewasaan tidak muncul dari usaha yang setengah-setengah, cita-cita yang kecil dan tekad yang lemah. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai obsesinya, maka Allah akan memberikan raa puas dalam hatinya dan menghimpun segala keinginannyadan dunia pun akan mendatanginya dengan merunduk. Dan barang siapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, membuyarkan segala keinginannya dan dunia tidak akan mendatanginya melainkan apa yang sudah ditemukan baginya. (HR.Tirmidzi)”.
Karena kedewasaan merupakan hasil dari proses pemikiran, pengalaman, tekad, latihan dan segala usaha menjadi lebih besar. Selalu yakinlah bahwa mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.
6. Mendekat dan terus mendekat pada Allah Ta’ala
Hal yang tidak boleh dilupakan dalam menapaki jalan menuju kedewasaan. Kita perlu memberi makanan hati, supaya jiwa stabil dan tidak meledak-ledak, yang menunjukan ketidakdewasaan. Kita perlu menjaga sifat-sifat yang positif. Diantara caranya memperbaiki kualitas Sholat, ibadah sunnah, baca Al-Quran, berdoa, dan mendalami ilmu-ilmu agama, dengan membaca dan berguru dariorang-orang yang shaleh. Berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi alangkah tidak mudahnya hidup tanpa keberanian menjadi dewasa. Suatu saat, kita akan diangggap dewasa oleh beberapa orang tapi menurut orang lain kita belum dewasa. Tapi semua itu tidak usah terlalu dihiraukan karena jauh lebih penting membuat diri kita berani berani dewasa di mata Allah dari pada di amata manusia.
Ada banyak jalan yang bisa kita terapkan untuk bisa menjadi lebih dewasa. Jalan-jalan itu memang harus kita lalui. Walaupun banyak suka dan dukanya di sana. Tetapi pintu-pintunya harus kita buka. Karena kedewasaan artinya kemampuan kita untuk menentukan menentukan hidup sendiri, mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mampu bertanggung jawab. Mari membuka pintu-pintu kedewasaan itu :
1. Berdiam sejenak, tidak terburu-buru
Salah satu ciri kedewasaan adalah kemampuan berfikir dengan tenang, tidak tergesa-gesa dan tidak didominasi oleh emosi. Setiap kita dikaruniai potensi untuk berfikir sebelum melakukan sesuatu, tanpa tergesa-gesa. Melakukan suatu pekerjaan dengan terburu-buru tidak berarti kita akan cepat mencapai tujuan denganlebih cepat, karena pekerjaan yang tanpa perhitungan dan pertimbangan yang masak adalah suatu tanda ketidaksabaran.
Seorang inspirator muslim yaitu KHomarudin Ibnu Mikam menasihati kita, “Sabar adalah kegigihan untuk senantiasa di jalan Allah dalam menerima suka maupun duka. Senantiasa bersyukur ketika mendapat kenikmatan. Senantiasa tawadhu bila menerima kesulitan”.
2. Jangan takut tntangan, karena itu akan mendewasakan
Kedewasaan adalah puncak dari kakuatan hidup yang harus kita miliki untuk member makna dan arti dalam perjalanan hidup kita. Jiwa ini perlu tantangan dan benturan. Sayyid Quthb, seorang pejuang dakwah islam yang syahid di tiang gantungan, mengerti betul hal ini. Katanya, “Hakikat imam tidak akan terbukti kesempurnaan dalam hati seseorang, sampai ia mengahadapi benturan upaya orang lain, yang berlawanan dengan imannya karena disinilah seseorang akan melakukan mujahadah (uapaya keras), sebagaimana orang lain melakukan mujahadah kepadanya, untuk mengahalanginya dari keimanan. Disinilah cakrawala iman akan tersingkap dan terbuka. Keterbukaan yang tidak pernah terjadi pada jiwa orang yang merasakan iman secara datar. (Syyid Quthb, Mustaqbal Li Haadzad Diin, 10).
Pilihan hidup ada pada keputusan diri kita sendiri. Jalan mana yang akan kita ambil semoga tidak karena pengaruh orang lain. Ya, bila kita menjalani hidup ini dengan datar-datar saja maka tidak ada tantangan disana. Mulailah hari ini dengan menantang diri untuk berubah lebih baik. Bangkitlah ke-6 kali bila kau sempat terjatuh untuk yang ke-5 kalinya.
Kaetika Rasulullah SAW menunjuk Usamah bin Hisyam menjadi panglima perang di usianya yang sangat belia, 17 tahun, bukanlah sebuah sensasi dan bukan pula sebuah kecerobohan. Sebab Usamah kemudian memang bisa menaklukan tantangan itu dan membuktikan kedewasaan dirinya, dengan kemampuannya mengemban amanah besar dan tidak pernah mempermasalahkan usianya di hadapan para sahabat yang lebih tua.
3. Berikanlah lebih banyak porsi untuk orang lain
“Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak dari pada waktu yang tersedia maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya dan jika anda punya kepentingan atau tugas selesaikanlah segera”. (Hasan Al-Banna).
Sangat terasa indah bila ditengah kesibukan kita masih sempatnya kita berkontribusi untuk orang lain, sesar dan kecilnya peran yang coba kita berikan pada orang lain tidak terlalu masalah karena yang terpenting adalah keberanian kita untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Terlebih bila hidup yang singkat ini, kita bisa menjadi inspirasi orang dalam hal kebaikan, dapat dipastikan pahala dari Allah akan terus mengalir.
Maka mari menjadi orang-orang yang akan membuat sejarah, yaitu orang –orang yang atas keinginannya sendiri konsen terhadap kepentingan kemanusiaan, mereka tidak mengambil hak untuk mendapatkan perlindungan, mereka hanya memiliki tanggung jawab, yang mereka lakukan dengan resiko apapun bagi dirinya.
4. Jangan banyak menggantungkan diri sendiri dari sikap orang lain
Mampu bersikap mandiri dan menentukan arah sendiri tanpa tergantung orang lain, adalah bagian dan cirri sikap kedewasaan. Seseorang yang dewasa adalah orang yang tahu menghargai dirinya, tahu memilih jalan yang wajar untuk dirinya sendiri. Dia percaya kepada kemampuannya dan serius dalam menjalani karyanya.
Seorsang Hasan Al-Banna mengatakan, “Bukanlah disebut pemuda ketika ia mengatakan ‘ini ayahku’. Tapi pemuda adalah ketika ia mengatakan’inilah aku’”.
5. Memiliki cita-cita tinggi dan pola pikir besar
Kita perlu memiliki obsesi dan cita-cita besar untuk mencapai sesuatu yang besar. Kedewasaan tidak muncul dari usaha yang setengah-setengah, cita-cita yang kecil dan tekad yang lemah. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai obsesinya, maka Allah akan memberikan raa puas dalam hatinya dan menghimpun segala keinginannyadan dunia pun akan mendatanginya dengan merunduk. Dan barang siapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, membuyarkan segala keinginannya dan dunia tidak akan mendatanginya melainkan apa yang sudah ditemukan baginya. (HR.Tirmidzi)”.
Karena kedewasaan merupakan hasil dari proses pemikiran, pengalaman, tekad, latihan dan segala usaha menjadi lebih besar. Selalu yakinlah bahwa mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.
6. Mendekat dan terus mendekat pada Allah Ta’ala
Hal yang tidak boleh dilupakan dalam menapaki jalan menuju kedewasaan. Kita perlu memberi makanan hati, supaya jiwa stabil dan tidak meledak-ledak, yang menunjukan ketidakdewasaan. Kita perlu menjaga sifat-sifat yang positif. Diantara caranya memperbaiki kualitas Sholat, ibadah sunnah, baca Al-Quran, berdoa, dan mendalami ilmu-ilmu agama, dengan membaca dan berguru dariorang-orang yang shaleh. Berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi alangkah tidak mudahnya hidup tanpa keberanian menjadi dewasa. Suatu saat, kita akan diangggap dewasa oleh beberapa orang tapi menurut orang lain kita belum dewasa. Tapi semua itu tidak usah terlalu dihiraukan karena jauh lebih penting membuat diri kita berani berani dewasa di mata Allah dari pada di amata manusia.
Senin, 20 Desember 2010
STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM BAHASA INDONESIA
A. JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN
1. Strategi Pembelajaran Ekspositori
Model pembelajaran ekspositori meruapakan kegiatan mengajar yang berpusat pada guru dimana guru memberikan informasi, menerangkan suatu konsep, mendemonstrasikan ketrampilannya mengenai pola, aturan, dahlil, member kesempatan siswa bertanya, guru memberikan contoh soal dan siswadiminta mengerjakan soal secara individual atau bersama-sama.
Metode yang dekat dengan ekspositori adalah metode ceramah dan metode demonstrasi. Keduanya sifatnya memberikan informasi, di sini guru tidak terus berbicara, namun guru member informasi hanya pada saat-saat tertentu. Misalnya, pada topic baru, pada waktu memberikan contoh-contoh soal, pada permulaan pelajaran dan sebagainya. Metode ekspositori ini akan menjadi metode yang efektif dan efisien yang dapat menyebabkan siswa belajar secara bermakna, bila digunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan situasi dan kondisi.
2. Strategi Pendekatan Pembelajaran Heuristik
Pada pembelajaran dengan pendekatan Heuristik, guru pertama-tama mengarahkan siswa pada sejumlah data/informasi tertentu. Siswa diminta membuat kesimpulan dari data itu. Bila kesimpulan itu benar maka tercapailah tujuannya, dan prose situ telah selesai, tetapi bila kesimpulan itu belum tepat maka guru memberikan tambahan data atau informasi dengan tujuan agar siswa mampu membuat kesimpulan yang benar. Pendekatan yang trermasuk heuristic adalah metode penemuan (discovery) dan metode inkuiri (inquiry).
a. Metode Penemuan (Discovery)
Metode ini mendasarkan pada prinsip bahwa isi/materi suatu bidang studi bukanlah merupakan serangkaian fakta yang lepas (terisolasi), tetapi ada berbagai cara untuk mengorganisasikan fakta yang terperinci dalam rangka memahami suatu konsep. Metode penemuan itu penting karena alas an sebagai berikut:
1) Pada kenyataan ilmu pengetahuan itu diperoleh melalui penemuan demi penemuan. Dengan cara ini siswa telah diajak untuk menghayati proses penemuan itu.
2) Konsep yang abstrak akan mudah dipahami dan diingat melalui proses penemuan sendiri.
3) Dapat meningkatkan kemampuan memecah masalah dan dapat lebih kreatif.
4) Menemukan sendiri menimbulkan percaya diri terhadap diri sendiri, dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan rasa ingin tahu untuk belajar lebih lanjut.
b. Metode Inkuiri
Metode inkuiri adalah pendekatan pengajaran dimana siswa sendiri bebas memilih atau mengatur obyek belajarnya, mulai dari penentuan masalah. Proses pengumpulan data, analisis sampai eksperimentasi. Pada metode inkuiri ini siswa dibimbing untuk sampai pada penemuan konsep sendiri, tetapi itu tidak mesti telah diketahui oleh guru. Dalam metode inkuiri ini yang lebih dipentingkan adalah proses penemuannya atau cara menemukan, sedagkan hasilnya itu nomor dua. Tujuan dari pendekatan inkuiri adalah agar siswa belajar melaksanakan metode ilmiah dan kemudian mampu menerapkan pada pemecahan masalah pada situasi yang lain.
3. Strategi Pembelajaran Cooperative
a. Pembelajaran Cooperative Learning
Model Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Dalam pendekatan ini, siswa merupakan bagian dari suatu system kerjasama dalam mencapai hasil yang optimal dalam belajar.
4. Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Pembelajaran contekstual teching and learning (CTL) menurut Nurhadi (2003) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Selain itu juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri.
Landasan filosofi CTL adalah kontruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar mengahafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
Dengan pendekatan kontekstual (CTL) proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa untuk bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuandari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, mereka mereka dalam status apa dan pelajari berguna bagi hidupnya.
5. Strategi Pembelajaran Inovatif
Berbagai macam strategi, metode, model atau teknik mengajar sudah diterpakan dan selalu diusahakan ada inovasi. Metode yang tidak mengaktifkan siswa, berpusat pada guru, membuat siswa bosan, dan sebagainya dianggap sebagai metode yang konvensional. Metode yang membuat siswa aktif, kreatif, menyenangkan, dan sebagainya yang dianggap baru yang meruapakan pembaharuan dalam pembelajaran dianggap sebagai metode yang inovatif.
Oleh karena itu sebaiknya guru menerapkan metode-metode yang bervariasi, menggabungkan berbagai metode dalam satu kesempatan, dan berusaha menciptakan atau menerapkan metode inovatif.
B. PENDEKATAN DAN METODE DALAM STANDAR KOMPETENSI BERBICARA
Dalam silabus yang telah saya buat, saya membahas standar kompetensi berbicara.
BERBICARA
6. Membahas cerita pendek melalui kegiatan diskusi
6.2. Menemukan nilai-nilai cerita pendek melalui kegiatan diskusi
Dari kelima pendekatan yang telah dijelaskan diatas maka saya menyesuaikan dengan silabus yang telah saya buat sebelumnya. Saya memilih untuk menggunakan strategi pendekatan Cooperative. Model Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Saya menyesuaikan dengan SK dan KD, jadi kegiatan diskusi yang akan dilaksanakan oleh siswa akan lebih tertuju pada kerja kelompok dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Disini guru berperan sebagai fasilitator. Dengan memahami langkah-langkah kegiatan pembelajaran dibawah ini akan lebih bisa menjelaskan alasan saya memilih pendekatan Cooperative dalam SK dan KD saya.
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran.
a. Kegiatan awal
• Menyiapkan media untuk memutarkan potongan film yang telah dipilih oleh guru
• Membagi kelas menjadi beberapa kelompok
• Memberikan sebuah referensi mengenai materi nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah cerpen/film.
b. Kegiatan inti
• Menonton potongan film
• Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam potongan film tersebut.
• Melaporkan hasil diskusi di depan kelas
• Menanggapi hasil diskusi dari kelompok lain.
c. Kegiatan penutup
• Menguji keterampilan berbicara
• Mengevaluasi hasil diskusi
Pemilihan model pendeketan atau metode ini saya sesuaika dengan konteks kegiatan pembelajaran dimana siswa dibuat untuk kerja kelompok, meskipun dalam melihat tayangan potongan film ini melalui diri masing-masing, namun dalam penggarapannya untuk menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam potongan film tersebut dilakukan secara berkelompok yang diharapkan siswa saling berbagi informasi dengan teman lainnya sehingga muncul rasa saling berbagi apa yang mereka punya. Pembelajaran ini juga melatih siswa untuk saling bersosialisasi karena kita juga hidup bermasyarakat dan kita juga diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Jadi, strategi pendekatan Cooperative menurut saya tepat untuk melaksanakan SK dan KD di atas.
1. Strategi Pembelajaran Ekspositori
Model pembelajaran ekspositori meruapakan kegiatan mengajar yang berpusat pada guru dimana guru memberikan informasi, menerangkan suatu konsep, mendemonstrasikan ketrampilannya mengenai pola, aturan, dahlil, member kesempatan siswa bertanya, guru memberikan contoh soal dan siswadiminta mengerjakan soal secara individual atau bersama-sama.
Metode yang dekat dengan ekspositori adalah metode ceramah dan metode demonstrasi. Keduanya sifatnya memberikan informasi, di sini guru tidak terus berbicara, namun guru member informasi hanya pada saat-saat tertentu. Misalnya, pada topic baru, pada waktu memberikan contoh-contoh soal, pada permulaan pelajaran dan sebagainya. Metode ekspositori ini akan menjadi metode yang efektif dan efisien yang dapat menyebabkan siswa belajar secara bermakna, bila digunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan situasi dan kondisi.
2. Strategi Pendekatan Pembelajaran Heuristik
Pada pembelajaran dengan pendekatan Heuristik, guru pertama-tama mengarahkan siswa pada sejumlah data/informasi tertentu. Siswa diminta membuat kesimpulan dari data itu. Bila kesimpulan itu benar maka tercapailah tujuannya, dan prose situ telah selesai, tetapi bila kesimpulan itu belum tepat maka guru memberikan tambahan data atau informasi dengan tujuan agar siswa mampu membuat kesimpulan yang benar. Pendekatan yang trermasuk heuristic adalah metode penemuan (discovery) dan metode inkuiri (inquiry).
a. Metode Penemuan (Discovery)
Metode ini mendasarkan pada prinsip bahwa isi/materi suatu bidang studi bukanlah merupakan serangkaian fakta yang lepas (terisolasi), tetapi ada berbagai cara untuk mengorganisasikan fakta yang terperinci dalam rangka memahami suatu konsep. Metode penemuan itu penting karena alas an sebagai berikut:
1) Pada kenyataan ilmu pengetahuan itu diperoleh melalui penemuan demi penemuan. Dengan cara ini siswa telah diajak untuk menghayati proses penemuan itu.
2) Konsep yang abstrak akan mudah dipahami dan diingat melalui proses penemuan sendiri.
3) Dapat meningkatkan kemampuan memecah masalah dan dapat lebih kreatif.
4) Menemukan sendiri menimbulkan percaya diri terhadap diri sendiri, dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan rasa ingin tahu untuk belajar lebih lanjut.
b. Metode Inkuiri
Metode inkuiri adalah pendekatan pengajaran dimana siswa sendiri bebas memilih atau mengatur obyek belajarnya, mulai dari penentuan masalah. Proses pengumpulan data, analisis sampai eksperimentasi. Pada metode inkuiri ini siswa dibimbing untuk sampai pada penemuan konsep sendiri, tetapi itu tidak mesti telah diketahui oleh guru. Dalam metode inkuiri ini yang lebih dipentingkan adalah proses penemuannya atau cara menemukan, sedagkan hasilnya itu nomor dua. Tujuan dari pendekatan inkuiri adalah agar siswa belajar melaksanakan metode ilmiah dan kemudian mampu menerapkan pada pemecahan masalah pada situasi yang lain.
3. Strategi Pembelajaran Cooperative
a. Pembelajaran Cooperative Learning
Model Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Dalam pendekatan ini, siswa merupakan bagian dari suatu system kerjasama dalam mencapai hasil yang optimal dalam belajar.
4. Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Pembelajaran contekstual teching and learning (CTL) menurut Nurhadi (2003) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Selain itu juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri.
Landasan filosofi CTL adalah kontruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar mengahafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
Dengan pendekatan kontekstual (CTL) proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa untuk bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuandari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, mereka mereka dalam status apa dan pelajari berguna bagi hidupnya.
5. Strategi Pembelajaran Inovatif
Berbagai macam strategi, metode, model atau teknik mengajar sudah diterpakan dan selalu diusahakan ada inovasi. Metode yang tidak mengaktifkan siswa, berpusat pada guru, membuat siswa bosan, dan sebagainya dianggap sebagai metode yang konvensional. Metode yang membuat siswa aktif, kreatif, menyenangkan, dan sebagainya yang dianggap baru yang meruapakan pembaharuan dalam pembelajaran dianggap sebagai metode yang inovatif.
Oleh karena itu sebaiknya guru menerapkan metode-metode yang bervariasi, menggabungkan berbagai metode dalam satu kesempatan, dan berusaha menciptakan atau menerapkan metode inovatif.
B. PENDEKATAN DAN METODE DALAM STANDAR KOMPETENSI BERBICARA
Dalam silabus yang telah saya buat, saya membahas standar kompetensi berbicara.
BERBICARA
6. Membahas cerita pendek melalui kegiatan diskusi
6.2. Menemukan nilai-nilai cerita pendek melalui kegiatan diskusi
Dari kelima pendekatan yang telah dijelaskan diatas maka saya menyesuaikan dengan silabus yang telah saya buat sebelumnya. Saya memilih untuk menggunakan strategi pendekatan Cooperative. Model Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Saya menyesuaikan dengan SK dan KD, jadi kegiatan diskusi yang akan dilaksanakan oleh siswa akan lebih tertuju pada kerja kelompok dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Disini guru berperan sebagai fasilitator. Dengan memahami langkah-langkah kegiatan pembelajaran dibawah ini akan lebih bisa menjelaskan alasan saya memilih pendekatan Cooperative dalam SK dan KD saya.
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran.
a. Kegiatan awal
• Menyiapkan media untuk memutarkan potongan film yang telah dipilih oleh guru
• Membagi kelas menjadi beberapa kelompok
• Memberikan sebuah referensi mengenai materi nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah cerpen/film.
b. Kegiatan inti
• Menonton potongan film
• Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam potongan film tersebut.
• Melaporkan hasil diskusi di depan kelas
• Menanggapi hasil diskusi dari kelompok lain.
c. Kegiatan penutup
• Menguji keterampilan berbicara
• Mengevaluasi hasil diskusi
Pemilihan model pendeketan atau metode ini saya sesuaika dengan konteks kegiatan pembelajaran dimana siswa dibuat untuk kerja kelompok, meskipun dalam melihat tayangan potongan film ini melalui diri masing-masing, namun dalam penggarapannya untuk menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam potongan film tersebut dilakukan secara berkelompok yang diharapkan siswa saling berbagi informasi dengan teman lainnya sehingga muncul rasa saling berbagi apa yang mereka punya. Pembelajaran ini juga melatih siswa untuk saling bersosialisasi karena kita juga hidup bermasyarakat dan kita juga diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Jadi, strategi pendekatan Cooperative menurut saya tepat untuk melaksanakan SK dan KD di atas.
Selasa, 14 Desember 2010
DOA Q untukMu
DOA PAGI
Ku lontarkan sebuah doa pagi ini
Ya Allah….
Aku begitu mencintainya
Aku begitu menyayanginya
Aku begitu merindukannya pula
Aku dan Dia saling jauh
Aku dan Dia saling percaya
Namanya sudah terukir dalam hati
Jika Engkau merestui hubungan kami,
Maka mudahkanlah kami dalam menjalaninya
Namu jika Engkau tidak mengijinkan
Maka berikanlah kami jalan keluar
Jalan yang terbaik untuk kita berdua
Aku meminta petunjukmu ya Allah
I LOVE
Ku lontarkan sebuah doa pagi ini
Ya Allah….
Aku begitu mencintainya
Aku begitu menyayanginya
Aku begitu merindukannya pula
Aku dan Dia saling jauh
Aku dan Dia saling percaya
Namanya sudah terukir dalam hati
Jika Engkau merestui hubungan kami,
Maka mudahkanlah kami dalam menjalaninya
Namu jika Engkau tidak mengijinkan
Maka berikanlah kami jalan keluar
Jalan yang terbaik untuk kita berdua
Aku meminta petunjukmu ya Allah
I LOVE
kau tlah pergi
Kering sudah telaga cintaku
Yang kuharapkan bersemi hingga diujung waktu
Lamunan ku kini berbalut amarah
Kebencian akan cintaku yang telah terpisah
Ingin ku rubah cerita
Dan melawan kenyataan
Deru nafasku tersengal
Saat melihat kau telah pergi
Pertemuan batinku
Tersayat luka perih dihati
Yang kuharapkan bersemi hingga diujung waktu
Lamunan ku kini berbalut amarah
Kebencian akan cintaku yang telah terpisah
Ingin ku rubah cerita
Dan melawan kenyataan
Deru nafasku tersengal
Saat melihat kau telah pergi
Pertemuan batinku
Tersayat luka perih dihati
Langganan:
Postingan (Atom)