Follow by Email

Sabtu, 15 Januari 2011

LAPORAN PENELITIAN FOLKLORE UMBUL MANTEN


UMBUL MANTEN DI DESA SIDOWAYAH JANTI POLANHARJO KLATEN DAN FUNGSINYA BAGI MASYARAKAT SEKITAR : ANALISIS PRAGMATIS

LAPORAN PENELITIAN













Nama kelompok:
Diyan Safitri A310080143
Ratna Ebti Rachmawati A310080153
Eprilia Kartika Sari A310080154
Eva Rahayu A310080167
Dewi Nafianti A310080178




PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011




BAB I
PENDAHULUAN



A.Latar Belakang

Folklor sebagai suatu disiplin atau cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, di Indonesia belum lama dikembangkan orang (Danandjaja, 1991: 1). Folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu: folklor lisan, folklor sebagaian lisan, dan folklor bukan lisan (Brunvand, dalam Danandjaya, 1991: 21 ). Adapun folklor lisan juga masih dibagi dalam beberapa kelompok, di antaranya adalah cerita prosa rakyat.
Salah satu bentuk cerita rakyat yang menarik untuk diteliti adalah cerita rakyat yang berkenaan dengan asal-usul penamaan suatu tempat. Cerita rakyat tersebut apabila dikelompokkan, termasuk pada genre cerita rakyat legenda setempat (local legends). Penamaan suatu tempat tidak muncul begitu saja, tetapi berkaitan dengan berbagai hal yang pada intinya menyangkut kebudayaan suatu masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa tertarik dengan cerita rakyat yang berkaitan dengan asal-usul umbul manten yang memiliki cerita unik yang teletak di Desa Sidowayah Janti Polanharjo Klaten. Penulis dalam melakukan penelitian ini menggunakan analisis pragmatik karena pendekatan pragmatik memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Ketertarikan penulis untuk mengetahui lebih telah menuntun penulis dalam melakukan penelitian folklor ini.

B.Rumusan Penelitian
Penellitian ini mempunyai tiga masalah yang harus diteliti dan dicari jawabannya.
a.Bagaimana sejarah terjadinya Umbul Manten?
b.Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap Umbul Manten?
c.Bagaimana fungsi Umbul Manten bagi masyarakat sekitar ?

C.Tujuan Penelitian
a.Mengetahui sejarah terjadinya Umbul Manten
b.Mengetahui berbagai tanggapan masyarakat terhadap Umbul Manten
c.Mengetahui fungsi Umbul Manten bagi masyarakat sekitar

D.Manfaat Penelitian
a.Menambah wawasan tentang penelitian folklore
b.Menambah wawasan tentang Umbul Manten

E.Sistematika Penulisan
Dalam penulisan proposal penelitian ini terdapat tiga bab yang terangkum. Bab I terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Selanjutnya pada bab II disampaikan beberapa kajian pustaka yaitu beberapa penelitian terdahulu mengenai folklor yang dianggap relevan dan uraian tentang teori-teori serta konsep-konsep yang digunakan sebagai landasan kerja penelitian yang relevan dengan topik tulisan, selain itu disampaikan juga kerangka pikir penulis dalam melakukan penelitian. Sedang pada bab III berisi metode penelitian yang terdiri atas beberapa bagian yaitu lokasi penelitian, pendekatan dan strategi penelitian, objek penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik validitas data, teknik analisis data serta sistematika penulisan proposal penelitian.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR



A.Tinjauan Pustaka

Beberapa penelitian yang sebelumnya yang dinilai cukup relevan dengan penelitian ini antara lain adalah Arief yuri dalam penelitiannya yang berjudul “Asal Usul Terjadinya Umbul Manten dan Umbul Pelem” yang berkesimpulan bahwa Umbul Manten mempunyai fungsi bagi masyarakatnya yang menganggap bahwa apapun usaha manusia di dunia ini dalam kehidupannya, ALLAH-lah yang menentukan segalanya. Fungsi kedua, memberikan jaminan masa kini, misalnya diceritakan dongeng sebagaimana pada zaman dahulu, para dewa juga mualuai menggarap sawahnya dan memperoleh hasil yang melimpah. Fungsi yang terakhir, memberikan pengetahuan pada dunia, artinya fungsi ini adalah memberikan ilmu pengetahuan dan fisafat dalam alam pikiran mereka, misalnya cerita-cerita terjadinya langit dan bumi.
Penelitian berikutnya, penelitian Dudung Adriyano (2005) dengan judul “Cerita Rakyat Kabupaten Sukuharjo (suatu kajian struktur dan nilai edukatif).” Penelitian tersebut berkesimpulan bahwa daerah sukoharjo terdapat banyak sastra lisan atau cerita rakyat. Beberapa cerita rakyat yang terkumpul antara lain (1) cerita rakyat “Ki Ageng Banyubiru”, (2) cerita rakyat “Ki Ageng Balok”, (3) cerita rakyat “Ki Ageng Sutowijoyo”, (4) cerita rakyat “Pasanggrahan Langen Harjo.” Penelitian ini juga melakukan analisis struktur dan nilai budaya terhadap lima cerita rakyat Sukoharjo. Analasis struktur cerita rakyat Kabupaten Sukoharjo terkandung nilai pendidikan yang meliputi pendidikan moral, pendidikan adapt (tradisi) pendidikan Agama (religi), sejarah sejarah (history) dan pendidikan kepahlawan.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama mengkaji tentang folklor lisan dan perbedaannya adalah penelitian ini difokuskan pada bagaimanakah fungsi Umbul Manten bagi masyarakat sekitar di desa Sidowayah Janti Polanharjo Klaten.

B.Landasan Teori
1.Hakikat Folklor
Secara etimologis kata folklor berasal dari bahasa Inggris folklore, kata dasarnya folk dan lore (Danandjaja, 1984:1). Folk menurut Alan Dundes adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu, antara lain, dapat berwujud warna kulit yang sama, mata yang sama, bahasa yang sama, bentuk rambut yang sama, dll.
Danandjaja menyimpulkan bahwa folk adalah sinonim dengan kolektif yang juga memilik ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat, dan yang dimaksud lor adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau pembantu pengingat.
Folklor menurut Dananjaja, tidak lain adalah sebagian kebudayaan suatu kolektof yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisoanal dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (Danandjaja, 1984:2).

2.Ciri Pengenal Foklor
Folklor memiliki sembilan ciri pengenal utama. Ciri pengenal folklore ini dapat dijadikan pembeda folklor dari kebudayaan lainnya (Danandjaja, 1984: 3-4). Ciri pertama samapai kelima berasal dari Jan Harold Brunvand (1968:4); ciri 6 dan 7 dari Carvalho-Neto (1965: 70); dan ciri ke-8 dan ke 9 dari Danandjaja (1984: 5).
Kesembilan ciri pengenal itu sebagai berikut.
a.Penyebaran dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan yakni saat itu penyebaran folklor bisa terjadi dengan bantuan mesin cetak dan elektronik;
b.Bersifat tradisional, disebarkan dalam bentuk relative tetap (standar);
c.Folklore eksi dalam versi-versi bahkan dalam varian-varian yang berbeda lantaran tersebar secara lisan dari mulut ke mulut;
d.Bersifat anonym, nama pencipatanya sudah tidak diketahui orang lagi;
e.Folklore biasanya memiliki bentuk berumus atau berpola memiliki formula tertentu dan mamanfaatkan bentuk bahasa klise;
f.Folklore mempunyai fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif (alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendan);
g.Folklore bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum (ciri ini berlaku baik bagi folklore lisan maupun folklore sebagaian lisan);
h.Menjadi milik bersama dari kolektif tertentu, hal ini disebabkan oleh pencipta pertama sudah tidak diketahui lagi;
i.Folklore pada umumnya bersifat polos dan lugu sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan; hal demikian itu dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folkor merupakan proyeksi emosi menusia-manusia yang paling jujur manifestasinya.

C.Kerangka Berfikir
Dalam mengkaji masalah penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan pragmatik dalam penelitiannya. Pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Melalui pendekatan ini peneliti akan menggali mengenai asal-usul umbul manten. Dengan adanya umbul manten maka peneliti juga menggali mengenai tanggapan masyarakat tentang umbul manten tersebut. Adanya sebuah tempat atau benda yang menarik pengunjung termasuk umbul manten yang mempunyai daya tari tersendiri pastinya memiliki fungsi-fungsi bagi masyarakat sekitar yang mana fungsi ini akan peneliti ungkapkan dalam penelitiannya.


BAB III
METODE PENELITIAN



A.Lokasi penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini di lakukan di Umbul Manten yang terletak di Sidowayah Janti Polanharjo Klaten. Waktu penelitian dilakukan selama dua minggu, dimulai tanggal 29 Desember sampai 12 Januari 2011.

B.Pendekatan dan Strategi penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan Pragmatis yaitu pendekatan yang mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca, maka masalah yang dapat dipecahkan diantaranya berbagai tanggapan masyarakat terhadap sebuah karya sastra, baik sebagai pembaca eksplisit maupun implicit, baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis).

C.Objek Penelitian dan Subjek Penelitian
Objek penelitian merupakan sasaran yang akan diteliti, yang tidak terlepas dari masalah penelitian. Dalam penelitian “Umbul Manten Di Desa Sidowayah Janti Polanharjo Klaten dan Fungsinya Bagi Masyarakat Sekitar : Analisis Pragmatis”, maka objek penelitiannya adalah cerita asal usul dari Umbul Manten itu sendiri. Sedangkan Subjek dalam penelitian ini adalah tanggapan masyarakat terhadap Umbul Manten yang menjadi sasaran penelitian ini.

D.Data dan Sumber Data
Data adalah semua informasi atau bahan yang harus dicari dan dikumpulkan oleh peneliti sesuai dengan masalah penelitian. Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder yaitu data yang diperoleh dari hasil penelitian atau telaah yang dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian ini data dan sumber data yang peneliti peroleh dari pengumpulan dokumen-dokumen yang bersangkutan dengan penelitian folklore serta umbul manten, selain pengumpulan dokumen, peneliti juga meninjau peristiwa atau tempat penelitian. Peneliti dalam memperoleh informasi lebih lanjut maka peneliti mengambil beberapa narasumber yang akan dimintai informasinya mengenai umbul manten.

E.Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah analisis dokumen, observasi, dan wawancara. Dalam analisis dokumen peneliti menggali asal-usul Umbul Manten. Setelah dokumen terkumpul, peneliti melakukan observasi ke Umbul Manten untuk melihat secara langusung bentuk Umbul Manten dan suasananya. Peneliti melakukan wawancara kepada kepala desa Sidowayah, pengelola Umbul Manten, petani dan pengunjung Umbul Manten untuk melengkapi data peneliti.

F.Teknik Validasi Data
Teknik validasi data dilakukan dengan menggunakan teknik triagulasi data. Teknik triagulasi data yakni teknik validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan melakukan pengecekan atau pembangding terhadap data tersebut. Teknik Validasi data meliputi empat macam aspek.
1.Triangulasi data
Data yang diperoleh dicek ulang pada sumber data lain.
2.Triangulasi peneliti
Dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian kita dengan hasil penelitian orang lain.
3.Triangulasi metode
Metode/ teknik pengumpulan data tertentu dikontrol dengan data serupa yang diperoleh dengan metode/ teknik yang lain.
4.Triangulasi teori
Dilakukan dengan menerapkan teori satu dan dikontrol melalui teori lain dalam analisis data.

G.Teknik Analisis Data
Teknik analisis data menggunakan metode interaktif. Metode interaktif meliputi reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Reduksi data dilakukan untuk menangkap makna dan fungsi yang menonjol dari segi tertentu yang menonjol. Sedangkan sajian data merupakan proses mengorganisasikan informasi yang ditemukan yang memungkinkan penarikan kesimpulan. Dan penarikan kesimpulan didasarkan atas pengorganisasian informasi yang diperoleh dalam analisis data.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN



1.Asal Usul Terjadinya Umbul Manten
Ada cerita rakyat yang beredar di masyarakat mengenai asal muasal umbul ini. Umbul ini mempunyai arti yaitu sumber. Konon dahulu ada sepasang pengantin baru. Pengantin ini diberi wejangan (amanah) oleh kedua orang tuanya, “kalau pengantin baru itu, dilarang keluar rumah bersama-sama menjelang senja (maghrib) sebelum 40hari”.
Pasangan pengantin tersebut bertanya “mengapa mereka dilarang keluar rumah menjelang senja sebelum 40 hari?”. Dijawab oleh orang tua tersebut, “kalian ndak perlu membantah. turuti saja dan kalian akan selamat”, dengan nada sedikit marah karena nasehatnya dibantah.
Pengantin tersebut suatu hari sebelum 40 hari keluar rumah bersama-sama saat itu menjelang senja. Sang suami berjalan mendahului istrinya. Setelah berjalan lama, sang suami menengok ke belakang dan menemukan istrinya menjauh kemudian lenyap. Begitu juga dengan sang istri, ketika dia mengejar sang suami ternyata suaminya semakin jauh dan akhirnya lenyap. Letak umbul inilah disinyalir sebagai lokasi di mana kedua suami istri itu lenyap. Hingga umubul ini dinamakan sebagai Umbul Manten.
Ada juga masyarakat yang percaya jika pasangan suami istri yang lama tidak mempunyai keturunun dan ingin mendapatkan keturunan harus berendam semalaman di umbul Manten. Air di umbul Manten juga sering digunakan untuk siraman pada pernikahan adat jawa, orang yang sering mengambil air di Umbul Manten ini terutama orang dari kawasan Solo dan Jogja sedangkan orang sekitar hanya memanfaatkan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari dan pengairan di sawah-sawah.
Untung mendatangi Umbul manten ini tidak ada pantangan (larangan) apapun. Air dalam Umbul ini sangatlah jernih, meskipun umbul ini untuk berendam seratus orangpun airnya tidak akan keruh. Hal ini dikarenakan adanya aliran yang tidak pernah terputus dan mata air yang terus mengalir. Umbul manten ini masuk dalam wilayah Sidowayah. Umbul Manten ini satu-satunya Umbul yang terdapat di Desa Sidowayah. Di Kecamatan Janti terdapat Sembilan umbul yang salah satunya adalah Umbul Manten ini.
Adanya sebuah ritual “Nepi” yang dilakukan oleh pengunjung yang biasanya dari Solo dan Jogja yaitu dengan mengambil tujuh macam air dari berbagai umbul yang tersebar di berbagai wilayah di kabupaten Klaten. Warga Solo mempunyai sebuah kepercayaan tersendiri terhadap Umbul Mnten ini, konon para pengantin menggunakan air Umbul Manten ini untuk membasuh muka mereka sebelum dirias akan terlihat aura pengantinnya, aura kesegaran pengantin baru.
Disekitar Umbul Manten terdapat sebuah hewan yang dinamakan “Sumpit” yaitu keong kecil namun bentuknya tumpul. Hal ini konon dulunya ada orang kraton yang mendatangi Umbul Manten tersebut dan salah satu kakinya tertusuk keong hingga berdarah. Dari kejadian itu akhirnya keong tersebut dikutuk menjadi tumpul. Keong inilah yang disebut sebagai “Sumpil”. Keong ini hanya ada di sekitar Umbul Manten saja dan hanya beberapa meter saja dari Umbul.
Berbagai cerita yang bersifat mitos ini kurang diperhatikan warga Sidowayah. Justru masyarakat luar seperti Solo dan Jogja yang mempercayai adanya mitos dari Umbul Manten tersebut. Warga Sidowayah hanya memanfaatkan Umbul Manten ini sebagai sumber air yang dapat menghidupi mereka. Selain untuk membantu perekonomian desa juga telah membantu pengairan sawah warga Sidowayah. Warga sangat bersyukur dengan adanya Umbul Manten ini.

2.Tanggapan Masyarakat Sekitar Terhadap Umbul Manten
Peneliti telah melakukan wawancara dengan beberapa narasumber di sekitar lokasi Umbul Manten. Berikut hasil wawancara peneliti dengan beberapa narasumber : (1) peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Desa Sidowayah yaitu Bapak Hapsoro (45 tahun), beliau mengatakan bahwa dengan adanya Umbul Manten di Desa Janti tersebut membawa keuntungan tersendiri bagi warga sekitar. Karena warga memanfaatkan air dari Umbul Manten untuk kehidupan sehari-hari dan untuk pengairan sawah warga. Warga di Desa Janti juga memanfaatkan lahan disekitar Umbul Manten yang berupa media air untuk ditanami sayuran yang mereka sebut “cenil” , sayuran ini hanya tumbuh dibeberapa tempat saja, salah satunya di Umbul Manten. Sayuran ini biasanya diolah warga untuk dijadikan makanan campuran pecel “cenil” yang digemari warga sekitar karena pecel “cenil” ini juga termasuk salah satu makanan khas dari Desa Janti.
Umbul Manten tersebut dikelola oleh salah satu warga Kelurahan Sidowayah dengan sistem lelang dalam jangka waktu satu tahun. Pelelangan tersebut dilakukan oleh warga dengan sistem tertutup. Peminat warga yang ingin melelang masih kurang karena warga beranggapan bahwa pendapatan kurang seimbang dengan biaya pelelangan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pengunjung yang datang tiap harinya ke lokasi Umbul Manten. Untuk pelelangan periode tahun 2010 dimenangkan oleh Bapak Muhtadi (48 tahun) dari Desa Sidowayah dengan lelang sebesar Rp 11.800.000,-. Periode itu berakhir pada bulan Desember dan dilakukan pelelangan selanjutnya pada awal bulan Januari 2011. Hasil pelelangan untuk periode tahun 2011 yang diikuti tiga calon pelelang yang berasal dari warga Sidowayah dan dimenangkan kembali oleh bapak Muhtadi dengan uang lelang sebesar Rp 17.000,000,- selisih Rp 5.200.000,- dari tahun sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari bapak Hapsoro (45 tahun) selaku kepala desa Sidowayah, maka peneliti melakukan wawancara langsung kepada bapak Muhtadi (48 tahun) sebagai pemenang lelang pada periode tahun 2010 dan 2011 untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang Umbul Manten. Pak Muhtadi mengungkapkan bahwa adanya umbul manten ini sangat membantu perekonomian warga desa Sidowayah dan sekitarnya, karena warga tidak perlu lagi memakai air PDAM. Selain itu petani desa Sidowayah juga memanfaatkan air untuk pengairan sawah mereka, sehingga menjadikan petani tidak kesulitan lagi ketika musim kemarau tiba.
Bapak Muhtadi (48 tahun) mengungkapkan bahwa dia telah empat kali berturut-turut memenangkan lelang kepengelolaan Umbul Manten tersebut. Adanya sistem pelelangan Umbul Manten tersebut dilatarbelakangi adanya keinginan warga setempat yang ingin menjadikan tempat itu lebih aman, terawat dan tidak dijadikan tempat untuk berbuat maksiat. Menurut cerita dari bapak Muhtadi (48 tahun) sebelum diadakannya sistem pelelangan tempat tersebut dijadikan warga desa Sidowayah dan sekitarnya untuk tempat pesta miras dan tempat mesum, sehingga sempat terjadi penggrebakan oleh Polisi dan FPI. Hal tersebut membuat warga sekitar menjadi geram dan mengusulkan untuk diadakannya pelelangan agar ada pihak penenggungjawab dan pengelola dari Umbul Manten.
Sistem pelelangn pertama dimulai pada tahun 2008 yang diikuti oleh dua orang dengan harga lelang tertinggi Rp 1.700.000,-. Pelelangan selanjutnya yaitu pada tahun 2009 di ikuti dua orang lagi dengan harga lelang tertinggi Rp 6.000.000,-. Pelelangan berikutnya yaitu pada tahun 2010 di ikuti oleh tiga pelelang, dengan harga lelang tertinggi Rp 11.800.000,- dan yang terakhir yaitu pada tahun 2011 di ikuti tiga pelelang lagi dengan harga lelang tertinggi yaitu Rp 17.000.000,-. Itu semua di menangkan oleh bapak Murtadi (48 tahun).
Setiap tahunnya terjadi selisih harga yang tinggi, itu semua membuktikan bahwa lokasi tersebut makin banyak peminatnya. Warga percaya bahwa dengan adanya sistem pelelangan ini tempat tersebut menjadi lebih terawat dan aman karena ada penanggungjawabnya. Bapak Muhtadi (48 tahun) selaku penanggung jawab dan pemenang lelang berperan aktif untuk selalu menjaga serta mengontrol tempat tersebut. Pengunjung yang ingin datang ke Umbul Manten tersebut dikenai biaya masuk seharga Rp 1.000,-/orang. Bapak Muhtadi sendirilah yang menjaga loket tersebut.
Setelah melakukan wawancara dengan bapak Murtadi (48 tahun), peneliti mencari tambahan informasi lebih lanjut dengan beberapa warga sekitar dan pengunjung lokasi Umbul Manten. Peneliti melakukan wawancara dengan saudara Dewo (22 tahun) yang berprofesi sebagai wiraswasta. Dia mengatakan bahwa keberadaan Umbul Manten di Desa Janti ini sangat menguntungkan bagi masyarakat sekitar, terlebih untuk anak-anak muda seumuran Dewo (22 tahun) memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat bertukat pikiran dan melepas kejanuhan serta untuk mengisi waktu luang. Anak-anak muda di sekitar lokasi juga menjaga kelestarian tempat tersebut (Umbul Manten). Berikutnya peneliti mewawancarai Saudara Habib (20 tahun) yang berprofesi sebagai wiraswasta. Dia juga berpendapat hampir sama dengan saudara Dewo (22 tahun) hanya saja dia menambahi bahwa Umbul Manten ini adalah ciri khusus dan satu-satunya yang dimiliki dari Desa Janti.
Peneliti juga menemui salah seorang petani yaitu Ibu Saliyem (51 tahun) yang sedang memanen sayuran “Cenil”. Beliau mengatakan bahwa dengan adanya umbul manten itu sangatlah menguntungkan bagi dirinya, karena lahan disekitar Umbul Manten dijadikan lahan untuk menanami sayuran “Cenil”. Sayuran itu hanya bisa tumbuh di media yang banyak air dan tidak tumbuh disembarang tempat.
Dari beberapa pengunjung di Umbul Manten sebagian besar adalah para pelajar SMP dan SMA yang memanfaatkan waktu luang mereka untuk menyegarkan pikiran setelah melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Mereka beranggapan bahwa setelah “kungkum” dan berenang di Umbul tersebut menjadikan mereka lebih fresh serta menjadikan semangat lagi untuk menjalani aktivitas selanjutnya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa denagn adanya Umbul Manten tersebut sangat menguntungkan bagi masyarakat sekitar. Keuntungan yang masyrakat dapatkan dengan adanya Umbul tersebut telah membantu perekonomian dan pengairan sawah warga desa Sidowayah.

3.Aspek-aspek dalam penelitian (Analisis Fungsi)
a.Aspek Agama
Dari cerita asal-usul umbul manten di atas dapat dinilai dari aspek agama yaitu adanya sebuah kepercayaan-kepercayaan yang menjadi adat masyarakat pendatang, sedangkan dalam agama islam tidak ada ajaran yang menyebutkan mengenai berbagai kepercayaan tersebut. Hal ini disebut sebagai mitos. Warga setempat justru tidak mempercayai adanya mitos yang ada di umbul manten.

b.Aspek Moral
Umbul manten di desa Sidowayah ini awalnya memang menjadi tempat untuk pesta miras bagi para pemuda desa Sidowayah dan sekitarnya. Adanya perubahan fungsi tempat tersebut menjadikan tempat itu lebih bermanfaat bagi masyarakat desa Sidowayah dan sekarang menjadi tempat yang bermanfaat dan dari segi moral sudah cukup baik.

c.Aspek Pendidikan
Melestarikan lingkungan, memanfaatkan lahan. Sedangkan dalam cerita umbul Manten dapat diambil petuahnya bahwa pertama jangan membantah nasehat orang tua.

d.Aspek Sosial
Nilai sosial dari cerita rakyat umbul menten adalah, agar kita selalu berusaha dengan baik dalam menjalni kehidupan ini dan selalu berbakti kepada kedua orang tua, selalu menghormati orang tua, mentaati nasihatnya, jangan suka membantah kepada orang tua, menjaga kehormatan keluarga, dan saling menyayangi antar suami dan istri baik suka maupun duka.

e.Aspek Kultural
Nilai-nilai kultural yang terkandung dalam cerita umbul manten yaitu bagaimana warga Umbul Manten selalu menjaga dengan baik apa yang menjadi tanggungjawabnya terhadap Umbul Manten. Tempat yang menyejukkan ini telah membantu warga setempat dalam segi perekonomian dan pertanian.


BAB V
PENUTUP



A.SIMPULAN
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Umbul Manten merupakan sebuah tempat yang menarik dan unik untuk dikunjungi. Adanya umbul manten ini sangat menguntungkan bagi warga Sidowayah dan sekitarnya baik dalam membantu perekonomian desa maupun dalam hal pertanian. Cerita asal-usul Umbul Manten ini dimulai dengan adanya sepasang pengantin yang hilang di Umbul ini sehingga dinamakan Umbul Manten. Masyarakat menggunakan system lelang untuk mengelola Umbul Manten ini. Pelelangan ini dilakukan dengan tujuan agar Umbul Manten ini terawatt dan bermanfaat.

B.SARAN
Alangkah lebih baiknya apabila tempat ini lebih dirawat lagi supaya terlihat lebih indah. Jalan menuju Umbul manten yang begitu sempit dan kecil ini mungkin bisa diperbaharui lagi. Letak Umbul Manten juga tidak bisa terlihat dari jalan raya karena terhalang pagar rumah yang tinggi. Mungkin bisa dilakukan pembangunan untuk kawasan ini sehingga pengunjung yang datang akan lebih mudah untuk menemukan lokasi ini. Selain itu diadakan pula pembersihan pada Umbul tesebut karena Umbul ini dikelilingi pohon-pohon besar yang daunnya jatuh ke Umbul.









DAFTAR PUSTAKA



Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009. “ Makalah Metode Penelitian Sastra Sebuah Pengantar” . Surakarta: FKIP UMS.

Danandjaja. 1991. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dll. Jakarta: Grafiti.

Iskandar. 2008. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Press.

Ratna, Kutha Nyoma. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sangidu. 2004. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik dan Kiat. Yogyakarta: Unit Penerbitan Sastra Asia Barat; Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Yuri, arief. 2009. Proposal Folklor Umbul Manten dan Umbul Pelem. http://folklor-umbul-mantenproposal.htm. Diakses tanggal 19 Desember 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar